Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Mei 2026 | 23.19 WIB

Prabowo Santai Tanggapi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar Kok!

Presiden Prabowo Subianto saat peresmian Rumah Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (16/5). (YouTube Setpres)

 

JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto menanggapi santai atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS.

Dia justru menyindir pihak-pihak yang dinilai terlalu cepat menyimpulkan Indonesia akan mengalami krisis hanya karena kurs rupiah melemah.

Menurut Prabowo, narasi bahwa Indonesia akan mengalami chaos atau kehancuran ekonomi terus berulang setiap kali terjadi gejolak nilai tukar.

“Ada yang selalu entah apa saya enggak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collaps. Akan chaos, akan apa, ya kan? Rupiah begini, rupiah begini, dolar begini,” ujar Prabowo saat peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Sabtu (16/5).

Dia menegaskan, mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan, tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari. Karena itu, menurutnya, pelemahan rupiah tidak perlu disikapi secara berlebihan hingga memicu kepanikan publik.

“Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok. Iya kan?” ujarnya.

Prabowo juga menilai kondisi Indonesia saat ini masih relatif aman dibandingkan sejumlah negara lain yang tengah menghadapi tekanan ekonomi global. Dia mengklaim bahwa ketahanan pangan dan energi nasional di tanah air masih terjaga.

“Pangan aman. Energi aman. Banyak negara panik Indonesia masih oke. Kita banyak. Banyak yang diberikan maha kuasa,” tukasnya.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, rupiah disebut berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal terus berlanjut.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di Selat Hormuz. Ketegangan juga meningkat setelah muncul insiden kapal kargo yang tenggelam di perairan Oman serta penahanan sejumlah kapal oleh Iran.

“Ketegangan geopolitik membuat harga minyak naik dan dolar AS menguat. Dampaknya rupiah mengalami tekanan cukup besar,” ujar pengamat dalam analisisnya, Jumat (15/5).

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore