Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Mei 2026 | 22.15 WIB

Rupiah Sempat Sentuh Rp 17.600, Tekanan Diperkirakan Berlanjut hingga Pekan Depan

Ilustrasi rupiah melenah terhadap dollar Amerika Serikat. (Dok. JawaPos.com) - Image

Ilustrasi rupiah melenah terhadap dollar Amerika Serikat. (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com – Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, rupiah disebut berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal terus berlanjut.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di Selat Hormuz. Ketegangan juga meningkat setelah muncul insiden kapal kargo yang tenggelam di perairan Oman serta penahanan sejumlah kapal oleh Iran.

“Ketegangan geopolitik membuat harga minyak naik dan dolar AS menguat. Dampaknya rupiah mengalami tekanan cukup besar,” ujar pengamat dalam analisisnya, Jumat (15/5).

Selain konflik Timur Tengah, pasar juga mencermati hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok yang kembali memanas. Hal ini seiring dengan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang disebut membahas perang dagang hingga isu Taiwan.

Situasi tersebut, kata dia, membuat pelaku pasar global cenderung memburu aset safe haven, termasuk dolar AS. Apalagi, muncul ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun ini.

“Kenaikan harga energi di Amerika berpotensi membuat inflasi tetap tinggi sehingga The Fed kemungkinan belum akan menurunkan suku bunga. Ini membuat indeks dolar semakin kuat,” jelasnya.

Di tengah tekanan global tersebut, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS di pasar internasional, pada Jumat (15/5) pagi. Namun, Bank Indonesia (BI) disebut langsung melakukan intervensi sehingga pelemahan bisa sedikit tertahan.

“Pagi tadi sempat di Rp 17.600 lebih, lalu kembali turun di bawah level itu. Artinya BI melakukan intervensi cukup serius di pasar internasional,” jelasnya.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah masih akan terasa hingga pembukaan pasar pada awal pekan depan. Sebab selama periode libur panjang, ruang intervensi domestik menjadi lebih terbatas.

Ibrahim memperkirakan pemerintah dan BI akan meningkatkan langkah stabilisasi ketika pasar kembali dibuka. Salah satunya melalui intervensi pasar serta penguatan likuiditas melalui instrumen surat utang.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore