
Ilustrasi rupiah melenah terhadap dollar Amerika Serikat. (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com – Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, rupiah disebut berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal terus berlanjut.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di Selat Hormuz. Ketegangan juga meningkat setelah muncul insiden kapal kargo yang tenggelam di perairan Oman serta penahanan sejumlah kapal oleh Iran.
“Ketegangan geopolitik membuat harga minyak naik dan dolar AS menguat. Dampaknya rupiah mengalami tekanan cukup besar,” ujar pengamat dalam analisisnya, Jumat (15/5).
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Ogah Ikut Final Ulang LCC MPR, Alasannya Tak Ingin Polemik Berkepanjangan
Selain konflik Timur Tengah, pasar juga mencermati hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok yang kembali memanas. Hal ini seiring dengan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang disebut membahas perang dagang hingga isu Taiwan.
Situasi tersebut, kata dia, membuat pelaku pasar global cenderung memburu aset safe haven, termasuk dolar AS. Apalagi, muncul ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun ini.
“Kenaikan harga energi di Amerika berpotensi membuat inflasi tetap tinggi sehingga The Fed kemungkinan belum akan menurunkan suku bunga. Ini membuat indeks dolar semakin kuat,” jelasnya.
Di tengah tekanan global tersebut, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS di pasar internasional, pada Jumat (15/5) pagi. Namun, Bank Indonesia (BI) disebut langsung melakukan intervensi sehingga pelemahan bisa sedikit tertahan.
“Pagi tadi sempat di Rp 17.600 lebih, lalu kembali turun di bawah level itu. Artinya BI melakukan intervensi cukup serius di pasar internasional,” jelasnya.
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah masih akan terasa hingga pembukaan pasar pada awal pekan depan. Sebab selama periode libur panjang, ruang intervensi domestik menjadi lebih terbatas.
Ibrahim memperkirakan pemerintah dan BI akan meningkatkan langkah stabilisasi ketika pasar kembali dibuka. Salah satunya melalui intervensi pasar serta penguatan likuiditas melalui instrumen surat utang.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
