Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Maret 2026, 19.50 WIB

Rupiah Tembus 17.001 per USD, Ekonom Ingatkan Risiko Harga Barang Ikut Naik

Teller menunjukan mata uang Dolar AS dan Rupiah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Senin (9/3/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Teller menunjukan mata uang Dolar AS dan Rupiah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Senin (9/3/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pada awal perdagangan pekan ini, nilai tukar (kurs) rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, Rupiah tercatat turun sebesar 76 poin atau sekitar 0,45 persen sehingga berada di posisi Rp 17.001 per USD.

Ekonom Permata Bank, Joshua Pardede menilai bahwa secara umum pelemahan rupiah ke kisaran Rp17 ribu memang meningkatkan risiko kenaikan harga, tetapi kenaikannya tidak selalu serentak dan tidak langsung terjadi pada semua barang.

“Kurs acuan Bank Indonesia pada 9 Maret 2026 tercatat Rp16.974 per dolar Amerika Serikat. Bank Indonesia juga menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar dapat mendorong kenaikan harga karena biaya barang dari luar negeri menjadi lebih mahal,” kata Joshua saat dihubungi JawaPos.com, dikutip Selasa (10/3).

Dia menjelaskan, kondisi inflasi pada Februari 2026 sudah mencapai 4,76 persen, alhasil ruang pelaku usaha untuk menahan kenaikan biaya menjadi semakin sempit, sehingga tekanan harga ke konsumen berpotensi bertambah bila pelemahan rupiah bertahan cukup lama.

Menurutnya, dampak yang paling cepat terasa biasanya ada pada barang yang bahan bakunya masih banyak didatangkan dari luar negeri, barang jadi impor, serta komoditas yang sangat bergantung pada ongkos angkut.

“Untuk energi, aturan Kementerian ESDM menyebut perhitungan harga dasar bahan bakar minyak bulanan memakai harga pasar dan nilai tukar rupiah, sehingga bila rupiah lemah bertahan, tekanan terhadap ongkos distribusi dan transportasi akan membesar,” jelasnya.

Hanya saja, bahan pokok domestik tidak otomatis bisa langsung naik setinggi itu. Sebab, pergerakannya juga sangat ditentukan oleh panen, pasokan, dan kelancaran distribusi.

Menurutnya, Badan Pangan Nasional saat ini masih mencatat ketersediaan minyak goreng, gula, cabai, bawang, telur, dan daging berada dalam kondisi surplus, sehingga bantalan pasokan masih ada.

“Pelemahan rupiah bisa mendorong kenaikan harga barang dan sebagian bahan pokok, terutama yang terkait angkutan dan energi, tetapi besarnya dampak akan sangat ditentukan oleh lamanya pelemahan rupiah, kebijakan harga energi, dan kemampuan pemerintah menjaga pasokan pangan,” tukas dia.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore