
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung saat konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Rabu (11/3/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Realisasi belanja negara pada kuartal I 2026 mencapai Rp 815 triliun, atau tumbuh 31,4 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Belanja pemerintah pusat tercatat mengalami pertumbuhan paling signifikan sebesar 47,7 persen YoY menjadi Rp 610,3 triliun.
Berbanding terbalik, realisasi transfer ke daerah justru turun 1,1 persen YoY menjadi Rp 204,8 triliun. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengungkapkan, secara keseluruhan, realisasi belanja pada tahun ini cukup cepat apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Di triwulan I ini, belanja sudah mencapai 21,2 persen dari (target) APBN. Bandingkan dengan tahun lalu di mana belanja hanya 17,1 persen (setara 17,1 persen dari target APBN) dan growth-nya hanya 1,4 persen," kata Juda di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4).
Di sisi lain, pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun atau meningkat 10,5 persen (YoY), setara dengan 18,2 persen dari target APBN. Penerimaan perpajakan mencapai Rp 462,7 triliun (17,2 persen dari target APBN) atau tumbuh sebesar 14,3 persen (YoY).
Sementara Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat Rp 112,1 triliun (24,4 persen dari target APBN) atau turun 3 persen (YoY). Dengan kinerja belanja dan penerimaan ini, maka defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Pada kesempatan yang sama, Juda juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 diperkirakan tumbuh sebesar 5,5 persen (yoy), berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Juda optimistis proyeksi ini dapat terwujud seiring dengan percepatan belanja pemerintah serta positifnya sejumlah indikator konsumsi domestik seperti yang dilaporkan Mandiri Spending Index (MSI).
Ia menambahkan bahwa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) juga mengalami peningkatan signifikan, yakni 57,7 persen YoY mencapai Rp 155,6 triliun, mengindikasikan positifnya aktivitas ekonomi melalui konsumsi maupun transaksi di dunia usaha.
“Tren penguatan memang terjadi sejak September di triwulan IV kemarin. Memang di bulan Maret ada sedikit pelemahan, terutama di dalam melihat ekspektasi kondisi ekonomi ke depan itu ada pelemahan, tentu saja ini saya kira dampak dari perang di Timur Tengah,” kata Juda.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022