Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 April 2026 | 18.20 WIB

Program MBG Dinilai Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Pedagang buah di Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, Jawa Tengah, yang meraup keuntungan besar sejak ada program MBG/(Istimewa).

JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan sosial bagi-bagi makanan, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat. Salah satunya dirasakan oleh Jeffri Sembiring, pedagang jeruk di Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, Jawa Tengah, yang meraup keuntungan besar sejak ada program MBG. 

 
“Pas musim MBG tujuh ton sehari. Sebelum MBG biasanya tujuh ton itu (penjualan) dua hari,” kata Jeffri saat diwawancara di Solo.
 
Ia mengaku senang dengan program MBG dan berharap terus berlanjut. Menurut Jeffri, selain membantu penjualan pedagang, petani juga ikut sejahtera karena harga buah membaik. “Banyak yang kebantu. Contohnya kayak pedagang ini, harga jualnya makin tinggi,” kata dia.
 
Hal yang sama juga dirasakan Usman, pedagang buah-buahan lokal dan impor di Pasar Gede. Ia khusus menjual buah-buahan secara grosir dan saat ini melayani 10 dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Solo. “Kita melayani sepuluh dapur,” ujar Usman saat diwawancara.
 
Usman menuturkan buah lokal yang paling sering dibeli SPPG yaitu jeruk dan salak. Sementara buah impor yang paling laris yaitu kelengkeng, apel Fuji, dan jeruk kecil.
“Alhamdulillah, (selama ada MBG) jadi lebih ramai lagi,” katanya.
 
Selain itu, lanjut Usman, sejak ada MBG, pegawai di toko sudah bertambah tujuh orang. Ia pun berharap MBG terus dilanjutkan demi memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia.
 
“Dilanjutkan saja, untuk menambah gizi anak-anak,” ucapnya.
 
 
Sementara itu, di mata Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, program ini adalah mesin pertumbuhan ekonomi baru yang sedang mengubah lanskap bisnis di daerah.
 
Executive Director Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri, menegaskan bahwa MBG sudah memberikan efek positif bagi perekonomian di sektor riil saat ini. "Dulu sebelum program MBG dimulai, stok ayam dan telur kita berlebih. Sekarang justru kekurangan, hingga harga telur jadi lebih mahal. Kita sedang memacu produksi lebih banyak lagi," jelasnya.
 
Menurutnya ini adalah kesempatan bagi para peternak ayam dan petani sayur di daerah, karena program ini adalah berkah ekonomi yang nyata bagi mereka. Oleh karena itu, Mulya mengirimkan pesan kuat kepada para pengusaha daerah untuk bertransformasi.
 
"Ayo pengusaha daerah, lakukan pivot. Jika dulu fokus di konstruksi, sekarang ambil kesempatan di industri makanan, kesehatan, dan pertanian," seru Mulya.
 
Mulya juga mengklarifikasi bahwa dana APBN yang dialokasikan untuk program MBG mayoritas untuk operasional makanan dan relawan, bukan untuk pembangunan infrastruktur dapur. Di sinilah peran pengusaha masuk.
 
"Kalau membangun dapur harus pakai dana pemerintah semua, itu pasti tekor. Modal satu dapur itu bisa Rp1,5 miliar hingga Rp3 miliar. Jadi, pengusaha yang membangun dapurnya, merekrut orangnya, dan mengelola jaringan ke penghasil makanan," ungkapnya.
 
Saat ini, dari target sekitar 30.000 dapur pemerintah, sekitar 20.000 unit sudah terbangun dan beroperasi. Mulya mendorong pengusaha di daerah yang belum bergabung untuk segera mengambil peluang di sepertiga sisa target tersebut, terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
 
Studi MBG Terhadap Ekonomi Rumah Tangga
 
Kehadiran MBG dinilai sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga dan menghemat uang jajan anak. Bagi orang tua yang sibuk bekerja di pagi hari, program ini menjadi solusi praktis yang memastikan anak-anak mereka tidak kelaparan dan tetap mendapatkan akses makanan bergizi di sekolah. 
 
“Hampir separuh murid, 48,5% siswa, mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan begitu 85,8% siswa selalu menghabiskan makanan MBG yang disajikan,” ungkap Dr. Hari Nugroho, MA, Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI.
 
Sejalan dengan itu, Research Institute Of Socio-Economic Development (RISED) baru-baru ini juga melakukan penelitian terkait MBG yang berdampak terhadap pengeluaran rumah tangga dan anak penerima manfaat.
 
"Sebanyak 81% orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkap Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi.
 
Sejalan dengan temuan RISED, Indikator Politik juga mengumumkan hasil survei serupa yakni, 12,2% masyarakat sangat puas dengan MBG, serta 60,6% masyarakat cukup puas dengan program MBG.
 
Intervensi pemerintah dalam memberikan makanan bergizi memang berdampak langsung pada konsentrasi belajar dan kualitas ilmu yang diserap siswa. Inilah fondasi utama untuk menciptakan SDM unggul di masa depan. 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore