
Aktivitas di Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai di area basement Blok M Hub, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Dimas Choirul/JawaPos.com)
JawaPos.com-Sore hari di kawasan Blok M Hub, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, selalu memiliki suasana yang khas. Anak-anak muda tampak hilir mudik di lorong-lorong pusat aktivitas yang belakangan kembali hidup sebagai ruang berkumpul, kuliner, dan tempat singgah.
Di antara sejumlah tenant modern yang memadati kawasan tersebut, sebuah ruang ritel sederhana yang mengusung semangat ekonomi gotong royong hadir di pojok area basement: Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai.
Dari tampak depan, bangunan koperasi tersebut tidak terlalu mencolok. Namun, keberadaannya cukup mudah dikenali dari papan besar berwarna merah-putih yang membentang di bagian atas toko. Tulisan “Koperasi Kelurahan Merah Putih Melawai, Kebayoran Baru” terpampang jelas, disertai gambar Presiden Prabowo Subianto.
Di dalamnya, suasana menyerupai minimarket kecil. Rak-rak besi berjajar rapi memajang berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari sembako, makanan ringan, minuman kaleng, biskuit, hingga berbagai produk kemasan lainnya.
Di salah satu sisi terlihat deretan tabung gas, sementara di sisi lain aneka camilan serta produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memenuhi rak dengan label harga yang tertata.
Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai, Paiman, menjelaskan bahwa koperasi ini merupakan bagian dari program nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi awalnya berdiri 21 Juni 2025, yaitu pada waktu pembukaan Pak Prabowo, Pak Presiden kita, itu seluruh Indonesia. Kebetulan di DKI Jakarta penempatannya di Melawai sebagai mock-up atau percontohan se-DKI Jakarta,” kata Paiman kepada JawaPos.com, Rabu (11/3).
Sebagai proyek percontohan, operasional koperasi ini juga mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan milik negara dan daerah. Produk-produk yang dijual sebagian besar dipasok melalui skema konsinyasi.
“Kebetulan koperasi kita sebagai percontohan, makanya dibantu oleh stakeholder dari BUMN dan BUMD. Ada Pasar Jaya, Dharma Jaya, dan Pertamina. Barang-barangnya disuplai dengan sistem konsinyasi semua,” jelasnya.
Dengan sistem tersebut, koperasi ini bahkan memulai operasionalnya tanpa modal awal.
“Modal dari Koperasi Merah Putih Melawai itu nol. Belum ada modal sama sekali, hanya dibantu oleh koperasi dinas pusat karena koperasi kita menjadi percontohan di DKI Jakarta,” ujarnya.
Selain produk dari BUMN dan BUMD, koperasi ini juga memberi ruang bagi produk UMKM. Produk-produk tersebut masuk melalui wadah khusus yang menampung berbagai usaha kecil.
“Produk di luar BUMN dan BUMD kita wadahi melalui Centong Deli. Di situ ada berbagai produk UMKM maupun produk dari desa-desa,” kata Paiman.
Dalam struktur organisasi, koperasi ini memiliki lima orang pengurus dan lima orang pengawas. Namun dalam praktik sehari-hari, hanya dua pengurus yang aktif menjalankan operasional.
“Untuk sementara ini yang aktif ada dua orang, karena tiga pengurus lainnya memiliki pekerjaan lain,” ujar Paiman.
