
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com – Industri kelapa sawit kembali menunjukkan peran strategisnya bagi perekonomian nasional. Sepanjang 2025, total devisa yang dihasilkan dari sektor sawit tercatat menembus USD 45,2 miliar, baik dari ekspor langsung maupun penghematan devisa lewat program substitusi impor biodiesel.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menjelaskan, ada dua sumber devisa utama yang dihasilkan industri sawit Indonesia. Pertama, devisa dari ekspor produk sawit ke pasar internasional.
“Ada 2 devisa yang dihasilkan dari sawit kita saat ini. Yang pertama adalah devisa hasil ekspor. Kita mengekspor produk-produk sawit ke internasional dan mendapatkan devisa dari situ. Tahun 2025 lalu, nilainya mencapai USD 37,1 miliar,” kata Tungkot dalam Media Briefing di Jakarta, Selasa (10/2).
Dia menyebut, jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp15 ribu per dolar AS, nilai tersebut setara dengan hampir Rp 600 triliun, menjadikan sawit sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia.
Sumber devisa kedua berasal dari substitusi impor, yakni penghematan devisa melalui penggantian solar impor dengan biodiesel berbasis sawit. Menurut Tungkot, sepanjang 2025 penghematan devisa dari skema ini mencapai USD 8,1 miliar.
“Itu yang kita sebut devisa substitusi impor. Jadi devisa yang dihemat karena kita tidak perlu mengimpor solar, tapi diganti biodiesel,” jelasnya.
"Jika digabungkan, total devisa sawit dari ekspor dan substitusi impor mencapai USD 45,2 miliar sepanjang 2025," tambahnya.
Lebih lanjut, Tungkot menegaskan kehadiran program mandatori biodiesel yang saat ini telah mencapai B40, memberi dampak signifikan terhadap neraca perdagangan migas. Impor solar yang masuk dalam neraca migas berhasil ditekan sehingga defisit migas menjadi lebih kecil.
“Defisitnya memang masih ada, tapi jauh lebih kecil dibandingkan tanpa biodiesel. Ini jelas penghemat devisa,” ujarnya.
Adapun dampak paling nyata terlihat pada neraca ekspor non-migas. Tungkot memaparkan, tanpa kontribusi sawit, surplus ekspor non-migas Indonesia pada 2025 hanya sekitar USD 23,7 miliar. Namun dengan adanya devisa sawit, surplus tersebut melonjak hingga USD 60,8 miliar.
“Kalau tidak ada sawit dan biodiesel, sebenarnya Indonesia dari tahun ke tahun mengalami defisit perdagangan. Kehadiran sawit, baik lewat ekspor maupun substitusi impor, membuat kita surplus,” tegasnya.
Karena itu, Tungkot menilai industri sawit dan program mandatori biodiesel menjadi faktor kunci yang membuat neraca perdagangan Indonesia semakin sehat dan stabil. “Yang membuat neraca perdagangan kita makin sehat itu adalah industri sawit, melalui ekspor dan melalui substitusi imporm, yaitu program mandatori biodiesel,” pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri
Prediksi Al Ittihad vs Al Ain di ACL Elite, Tuan Rumah Lebih Diunggulkan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022