Ilustrasi integrasi stablecoin ke dalam infrastruktur pembayaran Visa (Dok. Fortune)
JawaPos.com - Visa semakin menegaskan posisinya dalam sistem pembayaran global dengan mulai memasukkan stablecoin ke dalam infrastruktur pembayaran yang telah mapan. Integrasi ini ditempuh di tengah lonjakan transaksi aset digital dan perubahan arsitektur keuangan global yang mendorong perusahaan pembayaran besar untuk beradaptasi tanpa meninggalkan jaringan pedagang yang sudah ada.
Integrasi stablecoin, aset kripto yang nilainya umumnya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS dipandang Visa bukan sebagai pengganti sistem pembayaran konvensional, melainkan sebagai teknologi tambahan yang perlu dihubungkan dengan jaringan penerimaan pedagang yang telah mapan. Dengan pendekatan ini, Visa memposisikan diri sebagai penghubung antara inovasi berbasis blockchain dan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Dilansir dari Reuters, Jumat (16/1/2026), Kepala Divisi Kripto Visa, Cuy Sheffield, menegaskan bahwa meskipun teknologi stablecoin memungkinkan sistem pembayaran dibangun secara terpisah dari jaringan lama, koneksi dengan ekosistem pedagang tetap menjadi prasyarat utama adopsi luas.
"Anda tetap harus kembali dan terhubung dengan ekosistem penerimaan pedagang yang sudah ada jika ingin produk itu digunakan," ujar Sheffield.
Hingga kini, penggunaan stablecoin secara langsung di tingkat pedagang masih terbatas. Sheffield menyebut belum ada "penerimaan pedagang dalam skala besar" yang memungkinkan pemegang stablecoin membelanjakan aset digital tersebut secara luas dalam transaksi ritel harian. Kondisi ini, menurutnya, justru menegaskan peran Visa sebagai infrastruktur penghubung yang masih sangat dibutuhkan.
Sejalan dengan hal itu, Visa meluncurkan sejumlah inisiatif, termasuk kartu pembayaran yang terhubung dengan stablecoin. Pada Desember lalu, perusahaan ini memulai program percontohan yang memungkinkan sejumlah bank di Amerika Serikat melakukan penyelesaian transaksi dengan Visa menggunakan USDC, stablecoin yang diterbitkan oleh Circle.
Dalam fase transisi ini, Sheffield menilai ketergantungan perusahaan kripto terhadap jaringan Visa justru meningkat.
"Perusahaan membutuhkan produk dan layanan Visa lebih dari sebelumnya agar benar-benar bisa menghadirkan pengguna nyata," katanya. Pernyataan ini menegaskan posisi Visa sebagai infrastruktur utama dalam ekosistem pembayaran digital, bukan sekadar penyedia layanan tambahan
Dari sisi volume, penyelesaian transaksi stablecoin melalui Visa telah mencapai tingkat tahunan sekitar USD 4,5 miliar, setara Rp 76,0 triliun dengan kurs Rp 16.880 per dolar AS. Angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan total volume pembayaran Visa sepanjang tahun lalu yang mencapai USD 14,2 triliun, atau sekitar Rp 239,7 kuadriliun.
Namun, Sheffield menekankan bahwa pertumbuhan berlangsung konsisten. "Ini tumbuh secara signifikan dari bulan ke bulan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa permintaan terutama datang dari penyedia kartu berbasis stablecoin.
Langkah Visa ini berlangsung di tengah dinamika yang lebih luas di sektor keuangan global.
Selain itu, sejumlah bank besar seperti Goldman Sachs, UBS, dan Citi menyatakan tengah mengeksplorasi penerbitan stablecoin mereka sendiri, seiring kekhawatiran bahwa aset digital tersebut berpotensi menggeser peran bank komersial dalam arus pembayaran lintas negara.
Di Eropa, bank seperti ING dan UniCredit bahkan membentuk entitas khusus untuk meluncurkan stablecoin yang dipatok pada euro, sebagai upaya menyeimbangkan dominasi pembayaran digital berbasis dolar AS.
Secara global, nilai stablecoin yang beredar kini melampaui USD 270 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan dua tahun lalu, menurut data yang dihimpun Visa bersama analis blockchain Allium Labs.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022