
Ilustrasi aktivitas ekspor impor. Kinerja impor Indonesia periode Oktober 2025 tercatat menurun. (Istimewa)
JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja impor Indonesia pada Oktober 2025 mengalami perlambatan. Dengan realisasi mencapai USD 21,84 miliar atau turun 1,15 persen dibandingkan dengan Oktober 2024.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyampaikan, nilai impor migas tercatat sebesar USD 2,81 miliar atau turun 23,32 persen secara tahunan.
Sementara itu, nilai impor non-migas adalah sebesar USD 19,03 miliar, atau meningkat sebesar 3,26 persen.
"Penurunan nilai impor secara tahunan ini didorong oleh penurunan impor migas dengan andil sebesar minus 3,87 persen," kata Pudji Ismartini dalam konferensi pers rilis statistik di Jakarta, Senin (1/12).
Lebih lanjut, Pudji juga membeberkan pada Oktober 2025, terjadi penurunan impor untuk golongan penggunaan barang konsumsi dan bahan baku atau penolong secara tahunan sebesar 1,93 persen.
Kemudian nilai impor bahan baku penolong sebagai pendorong utama penurunan impor turun sebesar 5,18 persen dengan andil minus 3,75 persen dan nilai impor barang modal tercatat naik sebesar 15,24 persen.
Sementara itu, sepanjang Januari hingga Oktober 2025, total nilai impor Indonesia mencapai USD 198,16 miliar atau naik 2,19 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
"Nilai impor migas tercatat senilai USD 26,56 miliar atau turun 12,67 persen dan nilai impor non-migas tercatat senilai USD 171,61 miliar atau naik 4,95 persen," jelasnya.
Jika dilihat menurut penggunaannya, Pudji menyampaikan secara kumulatif peningkatan nilai impor terjadi pada barang modal dan sebagai penyumbang utama peningkatan impor.
Di mana nilai impor barang modal mencapai USD 40,55 miliar atau naik 18,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan memberikan andil peningkatan sebesar 3,29 persen.
"Impor barang modal yang naik cukup besar yaitu mesin atau peralatan mekanis dan bagiannya atau HS84, kemudian mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya atau HS85, serta kendaraan dan bagiannya atau HS87," jelas Pudji.
Sedangkan impor bahan baku penolong turun 1,25 persen menjadi USD 139,60 miliar. Begitu pula dengan impor barang konsumsi yang mengalami penurunan sebesar 2,05 persen menjadi USD 18,02 miliar.
"Kemudian jika dilihat menurut negara dan kawasan tujuan asal impor, peningkatan nilai impor terjadi dengan Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat. Sementara itu, impor dari negara ASEAN dan Uni Eropa mengalami penurunan," tutupnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
