
Ilustrasi saluran pipa gas. (Pixabay)
JawaPos.com - Manufaktur dalam industri migas Indonesia masih bergantung pada impor pipa dan peralatan strategis lainnya. Selain itu, di industri migas nasional masih mengalami keterbatasan teknologi dan basis industri domestik masih lemah. Fakta itu dinilai menghambat Indonesia untuk naik kelas di rantai nilai global.
“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal,” tegas Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan di Cilegon hari ini, Minggu (3/5).
Hari ini Hendrik Kawilarang Luntungan menerima kunjungan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) ke fasilitas produksi pipa Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon.
Kini PT Artas Energi Petrogas telah membuktikan kapabilitas itu sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Indonesia. IST telah berkontribusi menyumbang devisa negara hingga Rp 15 triliun melalui substitusi impor dan ekspor ke pasar Asia–Timur Tengah.
Adapun produk IST telah digunakan di proyek-proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) industri hulu migas. Produk itu sudah berstandar API 5CT & API 5L. Itu bukti bahwa industri dalam negeri mampu bersaing secara kualitas global.
Sementara itu, Chairman Komunitas Migas Indonesia (KMI) S Herry Putranto mendorong daya saing pipa seamless produksi dalam negeri yang saat ini memiliki kemampuan TKDN 46 persen agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Oleh karena itu, Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) mendorong transformasi agar dapat memberikan dampak langsung. Sekjen IAFMI Gede Pramona menyebut beberapa transformasi yang memberikan dampak seperti, penurunan signifikan impor peralatan migas; efisiensi dan optimalisasi cost recovery; peningkatan TKDN berbasis kualitas, bukan sekadar angka; dan lahirnya national champions industri migas. "Penguatan posisi Indonesia sebagai basis industri migas di Asia Tenggara," ujar Gede Pramona.
Namun, tantangan besar masih membayangi, seperti tingginya ketergantungan impor komponen kritikal, lemahnya penguasaan teknologi dan Research and Development (R&D), regulasi yang belum kompetitif, kesenjangan kualitas SDM, serta brand industri nasional yang belum kuat di pasar global.
Chairman Komunitas Migas Indonesia S Herry Putranto menambahkan, PT Artas Energi memiliki sumber daya dan pasar. Kini yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun industri sendiri dengan regulasi yang berpihak kepada kepentingan industri nasional. "Serta, investasi teknologi yang serius ditambah kesiapan SDM yang siap bersaing di kancah global,” sebutnya.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
