Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Mei 2026 | 04.01 WIB

Industri Migas Nasional Masih Bergantung Impor, Cek Pemicunya

Ilustrasi saluran pipa gas. (Pixabay) - Image

Ilustrasi saluran pipa gas. (Pixabay)

JawaPos.com - Manufaktur dalam industri migas Indonesia masih bergantung pada impor pipa dan peralatan strategis lainnya. Selain itu, di industri migas nasional masih mengalami keterbatasan teknologi dan basis industri domestik masih lemah. Fakta itu dinilai menghambat Indonesia untuk naik kelas di rantai nilai global.

“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal,” tegas Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan di Cilegon  hari ini, Minggu (3/5).

Hari ini Hendrik Kawilarang Luntungan menerima kunjungan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) ke fasilitas produksi pipa Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon.

Kini PT Artas Energi Petrogas telah membuktikan kapabilitas itu sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Indonesia. IST telah berkontribusi menyumbang devisa negara hingga Rp 15 triliun melalui substitusi impor dan ekspor ke pasar Asia–Timur Tengah. 

Adapun produk IST telah digunakan di proyek-proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) industri hulu migas. Produk itu sudah berstandar API 5CT & API 5L. Itu bukti bahwa industri dalam negeri mampu bersaing secara kualitas global.

Sementara itu, Chairman Komunitas Migas Indonesia (KMI) S Herry Putranto mendorong daya saing pipa seamless produksi dalam negeri yang saat ini memiliki kemampuan TKDN 46 persen agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Oleh karena itu, Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) mendorong transformasi agar dapat memberikan dampak langsung. Sekjen IAFMI Gede Pramona menyebut beberapa transformasi yang memberikan dampak seperti, penurunan signifikan impor peralatan migas; efisiensi dan optimalisasi cost recovery; peningkatan TKDN berbasis kualitas, bukan sekadar angka; dan lahirnya national champions industri migas. "Penguatan posisi Indonesia sebagai basis industri migas di Asia Tenggara," ujar Gede Pramona.

Namun, tantangan besar masih membayangi, seperti tingginya ketergantungan impor komponen kritikal, lemahnya penguasaan teknologi dan Research and Development (R&D), regulasi yang belum kompetitif, kesenjangan kualitas SDM, serta brand industri nasional yang belum kuat di pasar global.

Chairman Komunitas Migas Indonesia S Herry Putranto menambahkan, PT Artas Energi memiliki sumber daya dan pasar. Kini yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun industri sendiri dengan regulasi yang berpihak kepada kepentingan industri nasional. "Serta, investasi teknologi yang serius ditambah kesiapan SDM yang siap bersaing di kancah global,” sebutnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore