Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 Maret 2026 | 05.10 WIB

Bahlil Pastikan Stok BBM RI Aman 23 Hari ke Depan, Impor Dialihkan dari Timur Tengah

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM dalam negeri aman di tengah konflik di Timur Tengah. (YouTube Kementerian ESDM) - Image

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM dalam negeri aman di tengah konflik di Timur Tengah. (YouTube Kementerian ESDM)

 

JawaPos.com-Pemerintah memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman meski situasi geopolitik di Timur Tengah memanas dan berdampak pada penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional. Salah satunya adalah mengalihkan sumber impor minyak mentah dari kawasan lain yang tidak melalui jalur tersebut.

“Kita sudah mengalihkan sumber pasokan ke Amerika atau ke negara-negara yang tidak melalui Selat Hormuz. Sementara menyangkut BBM, yang kita impor bensin itu dari Asia Tenggara dan tidak ada dari Timur Tengah,” kata Bahlil dalam keterangannya, Kamis (5/3).

Selanjutnya, ia memastikan bahwa cadangan BBM di dalam negeri saat ini dalam kondisi aman. Cadangan tersebut mampu memenuhi kebutuhan dalam 23 hari ke depan.

Pemerintah juga, kata dia, menambah pasokan dari wilayah seperti Afrika, Australia, dan Amerika Serikat guna menjaga suplai kilang-kilang dalam negeri. Hal ini untuk menjaga ketersediaan BBM nasional secara aman dan terjamin.

"Dengan kata lain, tidak benar stok BBM akan habis dalam sekitar 2 hari. Pemerintah menjamin masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan tenang dan tidak perlu khawatir kekurangan pasokan BBM," ujar Bahlil.

’’Kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita menjelang Hari Raya Idul Fitri aman, termasuk dengan LPG. Jadi tidak perlu ada keraguan sekalipun terjadi dinamika global,” tukasnya.

Sebelumnya, eskalasi konflik antara Iran dan Israel serta Amerika Serikat (AS) yang berujung pada penutupan Selat Hormuz diprediksi akan mendorong lonjakan signifikan harga minyak mentah dunia. Bahkan, harga minyak disebut bisa menembus USD 100 per barel jika perang meluas dan berlangsung lama.

Ekonom Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menjelaskan kenaikan harga minyak sudah mulai terasa sejak serangan pertama ke Iran terjadi. Dampaknya mulai dirasakan dunia secara langsung.

“Jadi serangan pertama ke Iran itu sudah menaikkan harga sampai USD 67 per barel. Kemudian naik lagi menjadi USD 70 dan setelah penutupan akan mencapai USD 80-an,” ujar Fahmy saat dihubungi, Senin (2/3).

Menurutnya, dampak langsung dari peperangan di kawasan Timur Tengah hampir pasti mendorong harga minyak dunia melonjak cukup besar. Kawasan ini merupakan pusat produksi dan distribusi energi dunia.

Ia menegaskan, skenario terburuk akan terjadi apabila konflik semakin meluas dan penutupan Selat Hormuz berlangsung lama. Salah satu dampak signifikan adalah harga minyak mentah berpotensi naik. ’’Ya, kalau perang meluas, Selat Hormuz ditutup dan berlangsung lama, maka harga bisa naik sampai USD 100 per barel,” tandasnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore