
Talkshow bertema "Accelerating Sustainable Fuel, Focusing on Used Cooking Oil and Its Potential to Be Sustainable Aviation Fuel (SAF)" di Pavilion Indonesia COP30 Belem, Brasil, Selasa, (12/11/2025).
JawaPos.com -Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno mengungkapkan, Indonesia berkomitmen mendorong pengembangan bahan bakar penerbangan yang ramah lingkungan (sustainable aviation fuel) dan mendorong Pertamina menjadi pemimpin regional, sejalan agenda besar meraih target net zero emission (NZE) pada 2060 dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Eddy, Indonesia memandang pengembangan SAF bukan sekadar upaya untuk menurunkan emisi, melainkan sebagai investasi strategis dalam meningkatkan daya saing industri, ketahanan energi, dan ketangguhan ekonomi nasional.
“Inisiatif ini sepenuhnya sejalan dengan agenda besar Indonesia untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat, seiring tetap menjaga pertumbuhan ekonomi dan memperkuat rantai nilai nasional,” ujar Eddy dalam sesi talkshow yang mengangkat tema "Accelerating Sustainable Fuel, Focusing on Used Cooking Oil and Its Potential to Be Sustainable Aviation Fuel (SAF)" di Pavilion Indonesia COP30 Belem, Brasil, Selasa, 12 November 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Eddy mengapresiasi Pertamina yang menghadirkan peluang ekonomi besar, yaitu transformasi minyak jelantah (used cooking oil/UCO) menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau yang lebih dikenal dengan SAF.
Eddy Soeparno menilai, Indonesia memiliki kekayaan sumber bahan baku yang melimpah. Dengan mengoptimalkan sistem yang terintegrasi, Indonesia dapat memobilisasi hingga 715 kiloton minyak jelantah per tahun. Namun, saat ini hanya sekitar 20 hingga 30 persen yang berhasil dikumpulkan, sementara sisanya terbuang atau tidak dimanfaatkan.
“Misi lembaga kami (MPR) jelas, memastikan visi Indonesia terhadap SAF bukan sekadar inisiatif percontohan, melainkan komitmen nasional yang memberdayakan Pertamina untuk menjadi pemimpin regional dalam bahan bakar penerbangan berkelanjutan, mendorong daya saing ekonomi sekaligus kepemimpinan lingkungan,” jelas Eddy.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Odo R.M. Manuhutu mengungkapkan, SAF berbasis jelantah ini kian memperkuat strategi pemerintah dalam upaya dekarbonisasi sektor transportasi.
“Sektor transportasi menjadi tiga besar penyumbang emisi karbon,” ungkapnya.
Odo mengungkapkan pemerintah tengah menyusun peta jalan dan pengembangan SAF yang dikhususkan untuk transportasi udara. “Kita akan implementasi SAF 1% untuk maskapai pada 2027,” ujar Odo.
Odo mengapresiasi SAF berbasis jelantah, sehingga tidak terkendala dalam hal pasokan maupun jejak karbon. Oleh karena itu, Odo menjelaskan, ke depan pemerintah terus berupaya melibatkan banyak pihak untuk memperluas penggunaan SAF. “Termasuk menyiapkan skema pendanaan untuk penelitian pengembangan, sekitar 1% dari pendapatan transportasi maupun sektor energi,” jelasnya.
Indonesia menarik perhatian global pada perhelatan COP 30 di Belem, Brasil lewat kehadiran produk SAF berbasis material minyak jelantah.
Setelah sukses mengawal mandatori biodiesel (B40), Pertamina sejak beberapa tahun belakangan juga fokus menggarap SAF berbasis minyak jelantah (used cooking oil/UCO). Dengan keberhasilan membangun ekosistem SAF itu, Pertamina tidak saja menawarkan energi ramah lingkungan sesuai tuntutan industri penerbangan, melainkan juga meretas jalan kepada ekonomi sirkular di tengah era transisi energi.
Kehadiran SAF dan Biodiesel merupakan buah kebijakan Pemerintah Indonesia, serta langkah strategis Pertamina selaku penopang utama menciptakan swasembada energi nasional. Kini, mengikuti jejak sukses biodiesel, produk SAF berbasis jelantah pun diharapkan mampu memiliki daya ungkit ekonomi langsung kepada masyarakat.
Hal itu dimungkinkan dengan adanya ekosistem yang telah dibangun Pertamina. SAF melibatkan ekosistem usaha Pertamina, mulai dari pengepulan jelantah, kilang produksi, distribusi, hingga pemanfaatan oleh maskapai.
Tidak heran jika SAF buatan Pertamina ini jadi salah satu pembeda pada Paviliun Indonesia di ajang COP30. Dalam rangkaian kegiatan COP30 itu, Paviliun Indonesia secara gamblang mengangkat tema “Accelerating Substantial Actions of Nez Zero Achievement through Indonesia High Integrity Carbon”.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022