
Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC). (Istimewa)
JawaPos.com - Upaya memperkuat sistem komoditas berkelanjutan di Indonesia terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas lanskap yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan sektor swasta. Kolaborasi tersebut salah satunya dijalankan lewat Sustainable Landscape Program Indonesia (SLPI), hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss, dengan dukungan teknis dari United Nations Development Programme (UNDP).
SLPI menjadi wadah untuk menjembatani kebijakan nasional dan implementasi di tingkat lokal. Melalui program ini, berbagai wilayah penghasil komoditas utama di Indonesia didukung untuk menerapkan pendekatan pembangunan yang menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Momentum penguatan komitmen terhadap keberlanjutan ini mengemuka dalam ajang Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC).
Forum berskala global tersebut mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai negara, termasuk pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, dan masyarakat sipil, untuk berbagi pengalaman serta strategi menuju pembangunan hijau yang inklusif.
Dalam forum tersebut, SLPI menggelar sesi talkshow dengan tema 'Transforming Commodity Landscapes through Multi-Stakeholder Collaboration in Indonesia', UNDP Indonesia bersama para mitra pembangunan berbagi pengalaman dan pembelajaran dari empat konsorsium lanskap SLPI di Aceh, Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.
Keempat lanskap ini menunjukkan hasil positif dalam memfasilitasi kolaborasi multipihak untuk mewujudkan rantai pasok komoditas yang lebih bertanggung jawab. "Melalui SLPI, UNDP mendukung Pemerintah Indonesia dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi keberlanjutan," ujar Paramita Mentari Kesuma, SLPI Officer - Nature, Climate and Energy Unit, UNDP Indonesia, Jumat (17/10).
Dia menambahkan bahwa upaya ini tidak hanya menekankan koordinasi lintas sektor, tetapi juga pentingnya konsistensi antara kebijakan dan praktik di lapangan. "Dengan memfasilitasi koordinasi, berbagi pengetahuan, dan penyelarasan kebijakan, program ini memastikan komitmen nasional terhadap keberlanjutan tercermin dalam tindakan nyata di tingkat lokal," tambahnya.
Di Aceh, konsorsium Leuser Alas-Singkil River Basin (LASR) yang dipimpin oleh Swisscontact memberi pendampingan dalam implementasi tata guna lahan partisipatif. Pendekatan ini melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah dalam pemetaan penggunaan lahan berkelanjutan sekaligus mengembangkan sumber pendapatan alternatif bagi kelompok perempuan.
"Dukungan dari para pemangku kepentingan lokal memungkinkan kami memfasilitasi metode perencanaan tata guna lahan partisipatif yang membuka peluang penghasilan baru bagi masyarakat sekaligus menjaga kawasan hutan," jelas Christina Rini, Ketua Konsorsium LASR.
Sementara di Riau, konsorsiun Siak Pelalawan Landscape Programme (SPLP) yang dikoordinir oleh Daemeter berfokus pada keterkaitan antara keberlanjutan dan pembiayaan inklusif.
"Kami mengembangkan model yang menarik investasi swasta dan menghubungkan petani kecil dengan rantai pasok berkelanjutan," ujar Jimmy Wilopo, Ketua Konsorsium SPLP.
Dia menekankan bahwa kolaborasi antara sektor swasta dan petani menjadi kunci untuk memperluas dampak positif dari program ini. "Pendekatan ini menjembatani kebutuhan petani dengan standar lingkungan, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam transisi menuju praktik komoditas berkelanjutan," imbuhnya.
Di Kalimantan Tengah, Mosaik Initiative menggabungkan nilai konservasi dan kearifan lokal dalam penerapan sertifikasi berkelanjutan, termasuk uji coba sertifikasi kelapa sawit. "Dalam pilot proyek sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan, kami menerapkan pendekatan partisipatif berbasis High Conservation Values (HCV) yang tidak hanya memperhatikan keanekaragaman hayati, tetapi juga warisan budaya masyarakat," tutur Mirzha Hanifah dari HCV Network, mewakili Mosaik Initiative.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini terbukti mampu membangun kesadaran kolektif antara masyarakat dan pelaku usaha mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi dan konservasi. “Keberlanjutan bukan hanya soal melindungi alam, tapi juga menjaga identitas dan cara hidup masyarakat,” tambahnya.
Di Kalimantan Timur, GIZ Indonesia/ASEAN dari konsorsium SUSTAIN Kutim berbagi praktik baik pembentukan forum multipihak di Kabupaten Kutai Timur. Forum ini mempertemukan pemerintah daerah, perusahaan, dan kelompok tani untuk menyelaraskan inisiatif keberlanjutan serta merumuskan kebijakan inklusif yang berpihak pada masyarakat.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di 16 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Lionel Messi atau Mohamed Salah
