
Presiden Prabowo dalam pidatonya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Kamis (7/5). (Istimewa)
JawaPos.com - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman memandang, peta ekonomi ASEAN kini semakin kompetitif seiring dengan naiknya Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas.
Bank Dunia menetapkan rentang pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita sebesar 4.636-14.375 dolar AS sebagai ambang negara berpendapatan menengah atas untuk tahun fiskal 2027. Di ASEAN, Vietnam dan Filipina kini masuk kelompok tersebut bersama Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
“Artinya, ASEAN tidak lagi hanya bersaing sebagai kawasan upah murah, tetapi mulai masuk kompetisi produktivitas, industrialisasi, ekspor, dan kualitas SDM,” kata Rizal, dikutip Senin (6/7).
Bagi Indonesia, menurut Rizal, hal ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang. Persaingan menarik investasi asing akan semakin ketat karena investor akan membandingkan Indonesia dengan Vietnam yang kuat di sektor manufaktur berorientasi ekspor, Filipina yang kuat di jasa dan tenaga kerja terdidik, serta Malaysia dan Thailand yang lebih matang dalam rantai pasok industri.
Di sisi lain, hal ini juga membuka peluang kolaborasi ASEAN sebagai basis produksi terintegrasi, selama Indonesia mampu masuk lebih dalam ke rantai nilai regional, bukan hanya menjadi pasar besar dan pemasok bahan mentah.
Rizal mencatat bahwa keunggulan Indonesia ada pada skala ekonomi, pasar domestik besar, sumber daya alam strategis, dan potensi hilirisasi.
Namun, Indonesia juga masih memiliki tantangan antara lain terkait dengan produktivitas tenaga kerja belum tinggi, biaya logistik dan energi masih menjadi beban, kepastian regulasi sering berubah, serta kualitas sumber daya manusia (SDM) dan inovasi belum merata.
“Jadi, dibanding Vietnam dan Filipina, Indonesia unggul dari sisi ukuran pasar dan SDA, tetapi masih harus mengejar agresivitas manufaktur ekspor, efisiensi birokrasi, dan kualitas tenaga kerja,” jelas Rizal.
Ia juga memandang target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi masih realistis dalam jangka panjang, tetapi tidak mudah dicapai dalam waktu dekat.

Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Statistik Vikings Siap Hancurkan Samba
Prediksi Skor Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kelemahan 3 Singa di Estadio Azteca
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia: Bursa Taruhan Dunia Jagokan Selecao, Opta Beri Peluang Menang 53,6 Persen
Prediksi Skor Inggris vs Meksiko: Bursa Taruhan Dunia Tetap Jagokan Three Lions, Rekor Angker Azteca Jadi Ancaman
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Diunggulkan Kalahkan Cristiano Ronaldo Cs
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Bungkam Tuan Rumah
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Susunan Pemain Meksiko vs Inggris: Altitude Jadi Senjata El Tri, Saka dan Gordon Bantu Harry Kane
