Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Juli 2026 | 06.40 WIB

Indef: Ekonomi ASEAN Makin Kompetitif usai Vietnam dan Filipina Naik Kelas

Presiden Prabowo dalam pidatonya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Kamis (7/5). (Istimewa) - Image

Presiden Prabowo dalam pidatonya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Kamis (7/5). (Istimewa)

JawaPos.com - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman memandang, peta ekonomi ASEAN kini semakin kompetitif seiring dengan naiknya Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas.

Bank Dunia menetapkan rentang pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita sebesar 4.636-14.375 dolar AS sebagai ambang negara berpendapatan menengah atas untuk tahun fiskal 2027. Di ASEAN, Vietnam dan Filipina kini masuk kelompok tersebut bersama Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

“Artinya, ASEAN tidak lagi hanya bersaing sebagai kawasan upah murah, tetapi mulai masuk kompetisi produktivitas, industrialisasi, ekspor, dan kualitas SDM,” kata Rizal, dikutip Senin (6/7).

Bagi Indonesia, menurut Rizal, hal ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang. Persaingan menarik investasi asing akan semakin ketat karena investor akan membandingkan Indonesia dengan Vietnam yang kuat di sektor manufaktur berorientasi ekspor, Filipina yang kuat di jasa dan tenaga kerja terdidik, serta Malaysia dan Thailand yang lebih matang dalam rantai pasok industri.

Di sisi lain, hal ini juga membuka peluang kolaborasi ASEAN sebagai basis produksi terintegrasi, selama Indonesia mampu masuk lebih dalam ke rantai nilai regional, bukan hanya menjadi pasar besar dan pemasok bahan mentah.

Rizal mencatat bahwa keunggulan Indonesia ada pada skala ekonomi, pasar domestik besar, sumber daya alam strategis, dan potensi hilirisasi.

Namun, Indonesia juga masih memiliki tantangan antara lain terkait dengan produktivitas tenaga kerja belum tinggi, biaya logistik dan energi masih menjadi beban, kepastian regulasi sering berubah, serta kualitas sumber daya manusia (SDM) dan inovasi belum merata.

“Jadi, dibanding Vietnam dan Filipina, Indonesia unggul dari sisi ukuran pasar dan SDA, tetapi masih harus mengejar agresivitas manufaktur ekspor, efisiensi birokrasi, dan kualitas tenaga kerja,” jelas Rizal.

Ia juga memandang target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi masih realistis dalam jangka panjang, tetapi tidak mudah dicapai dalam waktu dekat.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore