
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar di Kementerian Keuangan, Selasa (16/9). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)
JawaPos.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, injeksi dana pemerintah ke sistem perbankan akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara beriringan. Karena itu, ia mendorong para direksi bank Himbara menggenjot kredit usai dapat kucuran dana.
Pertumbuhan ekonomi itu akan terdorong sekaligus dari sisi moneter maupun fiskal. Meski tantangan kondisi ekonomi saat ini masih belum kondusif.
Purbaya menjelaskan, menanyakan mana yang harus didahulukan antara pemulihan ekonomi atau penambahan dana ke perbankan, itu ibarat bertanya telur atau ayam duluan?
Berdasarkan pengalaman di 2021, ketika pemerintah menambah dana ke sistem, kredit perbankan pun tumbuh dan ekonomi mulai bergerak.
"Sama waktu itu juga kreditnya masih lemah. Pemerintah menambah uang ke sistem, kreditnya bisa tumbuh juga. Jadi saya pikir sih ketika uang bertambah ke sistem, dua sisi akan bergerak," terang Purbaya usai rapat internal bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung Cakti, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Selasa (16/9).
Menurut dia, likuiditas yang bertambah secara perlahan akan menurunkan suku bunga di pasar keuangan, termasuk suku bunga deposito maupun pinjaman bank.
Sehingga mendorong masyarakat beralih dari menabung ke konsumsi. Sementara perusahaan menjadi lebih berani mengambil kredit untuk menjalankan usaha.
"Karena bank kelebihan duit. Bank nggak akan menarik dengan terlalu susah payah uang dari masyarakat lagi. Jadi kalau pengalaman saya, ketika saya tambah likuiditas di sistem, dengan indikator itu tentunya nggak berlebihan. Kita pikir base money (M0) yang tumbuh di atas double digit itu cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Dengan demikian, sisi demand dan supply akan tumbuh berbarengan. Tanpa memicu inflasi yang berlebihan atau yang disebut demand pull inflation.
Artinya inflasi karena permintaan yang terlalu banyak. Seharusnya dengan injeksi seperti itu, perekonomian akan berjalan.
"Pada dasarnya saya paksa sistem bekerja dengan memberikan bahan bakar (berupa dana likuid). Yang kalau mereka (bank) nggak pakai, mereka harus bayar ke saya. Jadi ini sebetulnya prinsip dasar dari monetary policy," jelas Purbaya.
Dia memastikan, tambahan dana ini tidak akan memicu inflasi dalam jangka pendek hingga menengah. Karena kondisi ekonomi saat ini masih lesu. Inflasi baru bisa menjadi risiko jika pertumbuhan ekonomi sudah melampaui angka 6,5-6,6 persen.
Mengenai waktu implementasi penyerapan kredit ke sektor riil, Purbaya memperkirakan efeknya mulai terlihat paling lambat dalam waktu empat bulan.
Berdasarkan pengalaman 2021, perbaikan kredit mulai nampak dalam waktu kurang dari satu bulan setelah injeksi likuiditas pemerintah. Dengan begitu, tidak terlalu lama lagi ekonomi akan lebih bergairah.
Dia menegaskan tidak ada arahan khusus yang diberikan kepada bank. Pada dasarnya, Kemenkeu meminta perbankan untuk berpikir sendiri dalam pengelolaan dana tersebut.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Fenerbahce vs Roma di Liga Champions: Duel Seru Berpotensi Seri
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Shakhtar Donetsk di Liga Champions: Kans Boeren Amankan 3 Poin
Rombongan Badan Pangan Ditembaki di Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor Sporting Lisbon vs Galatasaray di Liga Champions: Leões Sikat Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022