Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 September 2025 | 20.19 WIB

Menkeu Purbaya Minta Direksi Bank Himbara Genjot Kredit usai Disuntik Rp 200 Triliun: Injeksi Dana Tak Akan Picu Inflasi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar di Kementerian Keuangan, Selasa (16/9). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos) - Image

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar di Kementerian Keuangan, Selasa (16/9). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)

JawaPos.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, injeksi dana pemerintah ke sistem perbankan akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara beriringan. Karena itu, ia mendorong para direksi bank Himbara menggenjot kredit usai dapat kucuran dana.

Pertumbuhan ekonomi itu akan terdorong sekaligus dari sisi moneter maupun fiskal. Meski tantangan kondisi ekonomi saat ini masih belum kondusif.

Purbaya menjelaskan, menanyakan mana yang harus didahulukan antara pemulihan ekonomi atau penambahan dana ke perbankan, itu ibarat bertanya telur atau ayam duluan?

Berdasarkan pengalaman di 2021, ketika pemerintah menambah dana ke sistem, kredit perbankan pun tumbuh dan ekonomi mulai bergerak.

"Sama waktu itu juga kreditnya masih lemah. Pemerintah menambah uang ke sistem, kreditnya bisa tumbuh juga. Jadi saya pikir sih ketika uang bertambah ke sistem, dua sisi akan bergerak," terang Purbaya usai rapat internal bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung Cakti, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Selasa (16/9).

Menurut dia, likuiditas yang bertambah secara perlahan akan menurunkan suku bunga di pasar keuangan, termasuk suku bunga deposito maupun pinjaman bank.

Sehingga mendorong masyarakat beralih dari menabung ke konsumsi. Sementara perusahaan menjadi lebih berani mengambil kredit untuk menjalankan usaha.

"Karena bank kelebihan duit. Bank nggak akan menarik dengan terlalu susah payah uang dari masyarakat lagi. Jadi kalau pengalaman saya, ketika saya tambah likuiditas di sistem, dengan indikator itu tentunya nggak berlebihan. Kita pikir base money (M0) yang tumbuh di atas double digit itu cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Demand dan Supply akan Tumbuh Berbarengan

Dengan demikian, sisi demand dan supply akan tumbuh berbarengan. Tanpa memicu inflasi yang berlebihan atau yang disebut demand pull inflation.

Artinya inflasi karena permintaan yang terlalu banyak. Seharusnya dengan injeksi seperti itu, perekonomian akan berjalan.

"Pada dasarnya saya paksa sistem bekerja dengan memberikan bahan bakar (berupa dana likuid). Yang kalau mereka (bank) nggak pakai, mereka harus bayar ke saya. Jadi ini sebetulnya prinsip dasar dari monetary policy," jelas Purbaya.

Dia memastikan, tambahan dana ini tidak akan memicu inflasi dalam jangka pendek hingga menengah. Karena kondisi ekonomi saat ini masih lesu. Inflasi baru bisa menjadi risiko jika pertumbuhan ekonomi sudah melampaui angka 6,5-6,6 persen.

Mengenai waktu implementasi penyerapan kredit ke sektor riil, Purbaya memperkirakan efeknya mulai terlihat paling lambat dalam waktu empat bulan.

Berdasarkan pengalaman 2021, perbaikan kredit mulai nampak dalam waktu kurang dari satu bulan setelah injeksi likuiditas pemerintah. Dengan begitu, tidak terlalu lama lagi ekonomi akan lebih bergairah.

Dia menegaskan tidak ada arahan khusus yang diberikan kepada bank. Pada dasarnya, Kemenkeu meminta perbankan untuk berpikir sendiri dalam pengelolaan dana tersebut.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore