Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 17.21 WIB

Sudah Resmi Jadi Menkeu, Purbaya Sadewa Diminta Prioritaskan Pulihkan Pertumbuhan Ekonomi

 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat di lantik di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/9/2025). (Biro Pers Sekretariat Presiden)

JawaPos.com - Pekerjaan berat menanti Purbaya Yudhi Sadewa setelah dilantik menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Salah satu aspek krusial yang perlu segera dilakukan oleh Purbaya adalah pemulihan ekonomi nasional.
 
Ekonom INDEF Ariyo Irhamna mengatakan, pelantikan Purbaya dipercaya sebagai langkah penyesuaian arah kebijakan ekonomi nasional yang lebih menekankan pada peran aktif pemerintah dalam pembangunan. Hal ini sesuai dengan visi pembangunan nasional yang inklusif dan berdaulat.
 
“Saya menilai prioritas jangka pendek Menteri Keuangan harus fokus pada pemulihan pertumbuhan ekonomi, sambil menjaga stabilitas fiskal dan sosial,” ungkap Ariyo kepada wartawan, Selasa (9/8).
 
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina Jakarta ini menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto dan Sri Mulyani memiliki ideologis yang berbeda dalam aspek pengelolaan ekonomi. Sri Mulyani cenderung menekankan prinsip peran pemerintah yang minim dalam ekonomi, menyerahkan sebagian besar dinamika pada mekanisme pasar. 
 
 
Sementara Presiden Prabowo Subianto lebih mendorong peran aktif dan optimal pemerintah melalui instrumen fiskal strategis, pembiayaan, dan penguatan BUMN.
 
“Pergantian ini menjadi langkah konsisten untuk memastikan kebijakan fiskal sejalan dengan visi pembangunan nasional yang inklusif dan berdaulat,” jelasnya.
 
Ia menekankan ada dua kebijakan yang bisa segera diambil Purbaya, yakni menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) menjadi Rp 75–80 juta per tahun agar ruang konsumsi masyarakat menengah ke bawah lebih luas, serta menurunkan tarif PPN menjadi 10 persen dengan 1 persen ditanggung pemerintah (PPN DTP).
 
“Dengan langkah itu, daya beli rumah tangga tetap terjaga tanpa secara drastis mengurangi penerimaan negara,” imbuhnya.
 
Mengenai reaksi pasar, Ariyo menilai penurunan IHSG sehari setelah pelantikan merupakan hal yang wajar. “Pasar membutuhkan waktu untuk menilai arah kebijakan baru. Penurunan IHSG saat kabinet baru dilantik bukanlah indikator fundamental negatif, melainkan respon awal terhadap ketidakpastian,” ujarnya.
 
Ia juga memberi catatan penting agar disiplin fiskal tetap dijaga. Terutama dalam aspek pengeluaran dana.
 
“Menteri Keuangan yang baru harus benar-benar menjaga disiplin fiskal, agar APBN tidak berubah menjadi ‘ATM tanpa batas’ yang terus dicairkan untuk semua kebutuhan tanpa prioritas,” tegas Ariyo.
 
Ke depan, kecepatan implementasi kebijakan serta komunikasi yang efektif dinilai akan menjadi kunci keberhasilan. “Kementerian Keuangan diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi, responsif terhadap pasar, dan mampu mengeksekusi program fiskal dan sosial secara efisien,” tandasnya.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore