Ilustrasi layanan pesan antar makanan online (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Dulu, saat malam sudah larut dan perut keroncongan, sering kali tidak ada pilihan lain selain menahan lapar, apalagi jika di luar sedang hujan. Situasi seperti itu terjadi karena belum adanya layanan pesan-antar makanan online.
Berbeda dengan sekarang yang semuanya serba cepat, mudah, dan praktis. Cukup dengan satu klik pada aplikasi ojek online, kamu bisa menemukan beragam pilihan makanan yang dapat disesuaikan dengan selera dan kebutuhanmu, mulai dari jarak, jenis makanan, hingga kisaran harga yang sesuai dengan kondisi dompet.
Berkat kemudahan ini, pola konsumsi banyak orang pun berubah. Survei Deloitte (2023) menunjukkan bahwa hampir 70% orang memesan takeout atau delivery sama seringnya, bahkan lebih sering, dibandingkan masa sebelum pandemi. Ini membuktikan bahwa teknologi telah beradaptasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Keuntungan dan Kekurangan Layanan Pesan-Antar Makanan
Bagi para UMKM, layanan pesan-antar makanan lewat aplikasi jelas menguntungkan. Dengan mendaftarkan usaha mereka di aplikasi, mereka bisa menjangkau konsumen lebih luas. Bahkan, warung kecil kini bisa bersaing dengan restoran besar.
Fenomena ini juga melahirkan lapangan pekerjaan baru, dengan profesi pengemudi ojek online sebagai tulang punggung sistem pengantaran makanan. Fleksibilitas waktu membuat pekerjaan ini diminati oleh berbagai kalangan, dari mahasiswa hingga pekerja paruh waktu.
Di sisi lain, ada beberapa kekurangan yang menyertai. Sebuah paper dalam researchgat.net memaparkan beberapa masalah yang mungkin terjadi, seperti kualitas pengiriman yang tidak konsisten, makanan datang dalam kondisi yang tidak prima, atau adanya kesalahan pengantaran.
Dari sisi teknologi, ada kemungkinan gangguan jaringan internet atau platform. Selain itu, aspek kebersihan restoran selama proses produksi hingga pengantaran, sering kali tidak dapat dipantau oleh konsumen.
Biaya tambahan seperti ongkos kirim atau potongan platform juga menjadi masalah karena membuat harga makanan menjadi lebih mahal. Hal ini memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, di mana sebagian orang rela membayar lebih demi kenyamanan.
Fenomena ini tidak hanya sekadar masalah perut, tetapi juga psikologi. Banyak orang merasa wajar memesan makanan favorit meskipun harganya lebih tinggi, hanya untuk menghindari cuaca yang tidak stabil atau kerepotan pergi langsung ke restoran.
Kebiasaan ini tentu dapat memengaruhi pola keuangan harian, di mana pengeluaran bulanan bisa membengkak tanpa terasa jika terlalu sering mengandalkan food delivery.
Pada akhirnya, sistem food delivery sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Mulai dari mahasiswa yang butuh makan cepat, pekerja yang sibuk, hingga warung kecil yang ingin menjangkau lebih banyak pelanggan, layanan ini menghadirkan kemudahan sekaligus membuka peluang bisnis.
Namun, hal ini juga menguji gaya hidup kita agar lebih disiplin dan bijak dalam mengatur pengeluaran, supaya tidak berujung pada pemborosan.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
