Ilustrasi barang-barang mewah (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Banyak orang beranggapan bahwa membeli barang mahal sudah pasti bagian dari pemborosan. Pandangan ini sering kali muncul dari stigma yang mengaitkan harga tinggi dengan gaya hidup berlebihan dan konsumtif.
Padahal, di balik harganya, barang-barang mahal sering kali menawarkan kualitas dan keunggulan yang jauh lebih baik.
Barang Mahal vs Fast Fashion
Mari kita ambil perumpamaan. Bayangkan kamu membeli sepasang sepatu seharga Rp 300.000, tetapi dalam waktu kurang dari enam bulan sepatu itu sudah rusak dan kamu harus membeli lagi.Bandingkan dengan sepatu seharga Rp 1 juta yang bisa bertahan hingga tiga tahun.
Di sinilah konsep "cost per wear" atau biaya per pemakaian menjadi sangat relevan. Dari contoh di atas, jika dihitung, biaya per pemakaian sepatu Rp 1 juta jauh lebih murah karena daya tahan dan jangka waktu pakainya yang lama. Dengan demikian, harga yang mahal tidak selalu berarti boros, melainkan bisa lebih efisien.
Menurut artikel dari theestablished.com, membeli barang sedikit dengan kualitas tinggi bisa menjadi gaya hidup yang lebih hemat dan berkelanjutan. Dengan cara ini, tidak ada lagi masalah menumpuknya barang di rumah yang kurang fungsional.
Having Less - Saving More
Konsep ini bisa menjadi pedoman yang kuat dalam berbelanja. Dengan hanya membeli barang sesuai kebutuhan dan dalam jumlah secukupnya, kita bisa menghemat uang untuk kebutuhan lain.
Tidak hanya menghemat dalam jangka panjang, dengan menerapkan konsep ini kamu juga secara tidak langsung berkontribusi pada lingkungan.
Produksi barang murah dalam jumlah besar (seperti fast fashion) berkontribusi pada limbah tekstil dan pencemaran lingkungan. Sebaliknya, membeli barang yang awet dan tahan lama dapat mengurangi siklus konsumsi berlebihan.
Jeli dalam Memilih
Meski begitu, jangan mudah terpukau hanya dengan label harga dan beranggapan bahwa semua barang mahal pasti sustainable.
Ada banyak faktor lain yang membuat suatu barang dibanderol dengan harga tinggi, misalnya karena dibuat dengan keahlian tangan khusus atau dijual dalam jumlah terbatas.
The World Financial Review menulis bahwa faktor pendukung produksi lokal atau budaya tertentu juga bisa menambah nilai bagi suatu barang mewah dan membuatnya terasa lebih "bermakna." Namun, penting untuk tetap jeli apakah bahan yang digunakan ramah lingkungan atau tidak.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
