
Ilustrasi Seseorang Mengatur Gaji Bulanan. (Freepik)
JawaPos.com – Rasanya baru kemarin transferan masuk di rekening, tapi masih tengah bulan kok sudah semakin menipis bahkan sekarat.
Namun tenang, kamu nggak sendirian! Banyak orang juga kesulitan dalam hal budgeting dan sering kali mengalami drama bulanan ini.
Tanpa perencanaan yang jelas, gaji bisa ludes begitu saja tanpa jejak. Padahal ada metode budgeting yang bisa dengan mudah kita terapkan.
Nah, biar gaji tetap aman dan lifestyle tetap jalan yuk kenalan dengan metode budgeting 50/30/20 berikut ini.
Dilansir dari Investopedia, konsep budgeting dengan metode 50/30/30 ini pertama kali dikemukakan dan dibahas secara rinci oleh Senator asal Amerika Serikat, Elizabeth Warren lewat bukunya yang berjudul “All Your Worth: The Ultimate Lifetime Money Plan”. Singkatnya, gaji yang kita terima selanjutnya akan dibagi ke dalam 3 kategori besar, yakni:
1. 50% untuk Kebutuhan
Sesuaikan dengan kondisi masing-masing, setengah dari pendapatan setelah dipotong pajak digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang wajib dipenuhi. Contohnya tempat tinggal, biaya makan, transportasi, listrik, zakat, asuransi dan tagihan lain-lain.
2. 30% untuk Keinginan
Setelah kebutuhan utama terpenuhi selanjutnya sisihkan cukup sebanyak 30% untuk pengeluaran yang lebih fleksibel. Biasanya sesuatu yang sifatnya menyenangkan dan berkaitan dengan gaya hidup. Misalnya berlangganan layanan streaming, membership gym, belanja pakaian, atau bahkan liburan.
3. 20% untuk Simpanan
Terakhir yaitu sebanyak 20% dialokasikan untuk kepentingan masa depan yaitu tabungan atau investasi. Menyisihkan sebagian dana yang kita punya adalah hal yang penting dilakukan sebagai bentuk antisipasi berupa dana darurat ketika di kemudian hari terdapat pengeluaran tak terduga.
Kendali akan diri sendiri memegang peranan utama dalam proses berjalannya metode ini terutama dalam hal kedisiplinan. Namun, ada tantangan lain yang menunggu dan siap menjadi hambatan yaitu “cashless effect”.
Dilansir dari sciencedirect.com, sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa PhD University of Adelaide, dengan Lachlan Schomburgk sebagai pemimpin menunjukkan bahwa seseorang akan mengeluarkan lebih banyak uang ketika melakukan pembayaran secara non-tunai. Inilah yang dinamakan dengan “cashless effect” karena pembayaran non-tunai terasa kurang ‘menyakitkan’ dibandingkan saat membayar dengan uang tunai (pain of paying) yang terlihat bentuk wujudnya.
Fenomena ini dapat membawa ke dalam situasi impulsif yang sulit dikontrol. Tetapi jangan khawatir, kamu bisa menerapkan beberapa trik untuk menghindar dari jebakan tersebut.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
