Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Agustus 2025 | 06.16 WIB

LPS Sebut Butuh Penguatan Sektor Swasta dan Belanja Pemerintah Agar Ekonomi Tumbuh di Atas 5 Persen

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa terpilih menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan (Menkeu). (Humas LPS) - Image

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa terpilih menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan (Menkeu). (Humas LPS)

JawaPos.com-Perlu strategi yang tepat untuk mendorong perekonomian nasional tumbuh di atas 5-6 persen. Yakni, mengakselerasi sumber-sumber penopang pertumbuhan seperti konsumsi rumah tangga, investasi, maupun ekspor.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dari faktor permintaan domestik. Per Juni 2025, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah berkontribusi 62,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Kemudian, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi sebesar 27,83 persen. Artinya, permintaan domestik memiliki porsi sekitar 90 persen. Selebihnya adalah ekspor.

"Kekuatan ekonomi Indonesia berasal dari besarnya domestic demand. Sebab itu dua mesin yang menggerakkan potensi domestik itu harus dioptimalkan," ungkap Purbaya dalam LPS Financial Festival di Surabaya, Kamis (7/8).

Dalam dua dekade terakhir, lanjut dia, perekonomian nasional tumbuh hanya di kisaran 5 persen. Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ketika harga komoditas booming, pertumbuhan ekonomi berada di level 6 persen. Saat itu, sektor swasta atau private sector lebih dominan perannya sebagai engine penggerak ekonomi.

"Hal itu yang menyebabkan utang pemerintah saat itu cenderung turun," terang Purbaya Yudhi Sadewa.

Sementara di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), harga komoditas tinggi. Tapi itu sudah berakhir. Ditambah masa pandemi Covid-19 selama 2020 hingga 2022. Mesin perekonomian lebih dominan digerakkan pemerintah, termasuk untuk membangun infrastruktur.

"Dalam dua puluh tahun terakhir ini, kita menyadari bahwa mesin ekonomi kita selalu timpang. Satu mati, satu jalan. Ke depan kita harus jalankan dua-duanya agar ekonomi bisa tumbuh lebih tinggi," ungkap Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurut dia, perekonomian Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh lebih tinggi. Jika dua mesin penggerak ekonomi berfungsi seimbang. Yaitu, private sector dan belanja pemerintah. Meski banyak tantangan eksternal yang menyebabkan ketidakpastian kebijakan ekonomi global.

"Sekarang ada program-program pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG) dan koperasi Merah Putih. Ini untuk menjaga stabilitas dan memang harus ada. Tapi jangan melupakan private sector," ujar Purbaya.

Menurut dia, perlu mendorong perbankan untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor ekonomi yang digerakkan oleh dunia usaha. Kondisi tersebut bisa berjalan dengan baik jika tercipta optimisme.

"Kalau pun ada gonjang-ganjing, kekuatan domestik kita 80 persen. Hanya 20 persen dari ekspor. Tinggal bagaimana kita pintar menggerakkan semua mesin perekonomian di domestik," imbuh Purbaya Yudhi Sadewa.

Saat ini, industri perbankan tetap kuat dengan likuiditas yang memadai. Ditopang oleh permodalan yang kuat. Bahkan di tengah guncangan akibat ketidakpastian eksternal.

Rasio kecukupan modal alias credit adequacy ratio (CAR) per Juni tumbuh 25,81 persen. Penyaluran kredit juga positif naik 7,77 persen year-on-year (YoY). Sedangkan, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,96 persen YoY.

Kualitas kredit terjaga dengan non-performing loan (NPL) gross berada di level 2,22 persen pada Juni 2025. Untuk simpanan perbankan di tier saldo kurang dari Rp 2 miliar naik 4,29 persen YoY menjadi Rp 143,22 triliun. Sementara tier saldo lebih dari Rp 2 miliar tumbuh 8,46 persen YoY menjadi Rp 459,49 triliun.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore