Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 12 Juli 2025 | 01.55 WIB

Emil Dardak Dorong Industri Jatim Perkuat Pasar Domestik dan Diversifikasi Hadapi Tekanan Trump Tariff

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dalam pembukaan SPE 2025, rabu (9/7) di Grand City Convex, Surabaya. - Image

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dalam pembukaan SPE 2025, rabu (9/7) di Grand City Convex, Surabaya.

JawaPos.com - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak merespons Trump Tariff yang mencekik ekspor Indonesia hingga 32 persen. Tarif itu akan berlaku mulai Agustus 2025. Kebijakan tarif impor baru dari Amerika Serikat terhadap sejumlah komoditas Indonesia, termasuk dari Jawa Timur, memicu perhatian serius dari pemerintah daerah. 

Emil menegaskan pentingnya strategi adaptif agar industri tetap tangguh dan tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). "Ayolah, kita jangan sampai terjadi pemutusan hubungan kerja. Kalau ada kondisi yang sulit, ayo dibicarakan bersama. Kita cari solusi agar perusahaan tetap bisa beroperasi dan pegawai tidak perlu sampai di-lay off," ujarnya, Rabu (9/7).

Ia mengapresiasi tercapainya kesepahaman antara dunia usaha dan pemerintah. "Kami terus menjaga komunikasi dengan asosiasi pelaku usaha. Harapan kami, industri bisa membangun ketahanan domestik," imbuhnya.

Kebijakan tarif impor AS yang mencapai 32 persen menjadi pukulan tersendiri bagi sektor ekspor Indonesia. Namun Emil menjelaskan, struktur ekonomi Jawa Timur sangat ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi.

"Dari total PDRB Jawa Timur sekitar Rp 2.700 triliun, sekitar 60 persen berasal dari konsumsi domestik dan 25 persen dari investasi. Artinya, 85 persen ekonomi kita masih digerakkan dari dalam negeri," papar Emil.

Sementara net ekspor (ekspor dikurangi impor) porsinya relatif kecil, karena sebagian besar industri manufaktur di Jatim mengandalkan bahan baku dan mesin dari luar negeri. Jawa Timur sendiri menjadi pusat distribusi dan produksi nasional, di mana produk akhir dipasok untuk konsumen seluruh Indonesia.

Meski demikian, Emil tetap menyoroti dampak mikro yang tak kalah penting. "Kita tidak ingin warga kita kesulitan. Karena itu, pendekatan yang kita lakukan bersifat makro menjaga stabilitas industri, secara mikro melindungi pekerja dan lapangan kerja," tegasnya.

Pemerintah Provinsi Jatim disebut telah mengambil langkah antisipatif. Beberapa perusahaan diminta melakukan diversifikasi produk dan pasar ekspor, seperti mengalihkan tujuan ekspor ke negara-negara di Asia atau Afrika, serta memperkuat basis pasar domestik.

"Misalnya, ada yang mengalihkan ke produk lain yang tetap bisa diproduksi dengan mesin yang sama, tapi pasarnya bukan Amerika. Ini sudah mulai dilakukan," ujar Emil.

Persaingan antarnegara juga menjadi perhatian. Emil mencontohkan negara seperti Vietnam yang mendapat perlakuan tarif lebih ringan dari AS untuk produk sejenis.

"Kalau Vietnam dapat tarif 20 persen, lebih rendah dengan selisih 12 persen, ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk bersaing. Maka kita harus berpacu, mengevaluasi rantai suplai, dan mencari peluang di pasar baru," jelasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore