
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dalam pembukaan SPE 2025, rabu (9/7) di Grand City Convex, Surabaya.
JawaPos.com - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak merespons Trump Tariff yang mencekik ekspor Indonesia hingga 32 persen. Tarif itu akan berlaku mulai Agustus 2025. Kebijakan tarif impor baru dari Amerika Serikat terhadap sejumlah komoditas Indonesia, termasuk dari Jawa Timur, memicu perhatian serius dari pemerintah daerah.
Emil menegaskan pentingnya strategi adaptif agar industri tetap tangguh dan tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). "Ayolah, kita jangan sampai terjadi pemutusan hubungan kerja. Kalau ada kondisi yang sulit, ayo dibicarakan bersama. Kita cari solusi agar perusahaan tetap bisa beroperasi dan pegawai tidak perlu sampai di-lay off," ujarnya, Rabu (9/7).
Ia mengapresiasi tercapainya kesepahaman antara dunia usaha dan pemerintah. "Kami terus menjaga komunikasi dengan asosiasi pelaku usaha. Harapan kami, industri bisa membangun ketahanan domestik," imbuhnya.
Kebijakan tarif impor AS yang mencapai 32 persen menjadi pukulan tersendiri bagi sektor ekspor Indonesia. Namun Emil menjelaskan, struktur ekonomi Jawa Timur sangat ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi.
"Dari total PDRB Jawa Timur sekitar Rp 2.700 triliun, sekitar 60 persen berasal dari konsumsi domestik dan 25 persen dari investasi. Artinya, 85 persen ekonomi kita masih digerakkan dari dalam negeri," papar Emil.
Sementara net ekspor (ekspor dikurangi impor) porsinya relatif kecil, karena sebagian besar industri manufaktur di Jatim mengandalkan bahan baku dan mesin dari luar negeri. Jawa Timur sendiri menjadi pusat distribusi dan produksi nasional, di mana produk akhir dipasok untuk konsumen seluruh Indonesia.
Meski demikian, Emil tetap menyoroti dampak mikro yang tak kalah penting. "Kita tidak ingin warga kita kesulitan. Karena itu, pendekatan yang kita lakukan bersifat makro menjaga stabilitas industri, secara mikro melindungi pekerja dan lapangan kerja," tegasnya.
Pemerintah Provinsi Jatim disebut telah mengambil langkah antisipatif. Beberapa perusahaan diminta melakukan diversifikasi produk dan pasar ekspor, seperti mengalihkan tujuan ekspor ke negara-negara di Asia atau Afrika, serta memperkuat basis pasar domestik.
"Misalnya, ada yang mengalihkan ke produk lain yang tetap bisa diproduksi dengan mesin yang sama, tapi pasarnya bukan Amerika. Ini sudah mulai dilakukan," ujar Emil.
Persaingan antarnegara juga menjadi perhatian. Emil mencontohkan negara seperti Vietnam yang mendapat perlakuan tarif lebih ringan dari AS untuk produk sejenis.
"Kalau Vietnam dapat tarif 20 persen, lebih rendah dengan selisih 12 persen, ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk bersaing. Maka kita harus berpacu, mengevaluasi rantai suplai, dan mencari peluang di pasar baru," jelasnya.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
