
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersiap menyampaikan paparan pada Rapat Paripurna ke-18 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2024-2025 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/5/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga 31 Mei 2025, APBN defisit sebesar Rp 21 triliun (0,09 persen) terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menkeu memastikan defisit yang tercatat pada Mei 2025 ini masih jauh dari target sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 62 Tahun 2024 tentang APBN Tahun Anggaran 2025.
"Defisit kita Rp 21 triliun masih jauh di bawah keseluruhan defisit sesuai dengan Undang-Undang 62 tahun 2024, yaitu Rp 616,2 triliun," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2025 di Jakarta, Selasa (17/6).
Lebih lanjut Menkeu membeberkan postur APBN hingga 31 Mei 2025, tercatat pendapatan negara mencapai Rp 995,3 triliun. Artinya, Pemerintah sudah mengumpulkan 33,1 persen dari target pendapatan tahun ini.
Sri Mulyani menyebut, pajak terkumpul Rp 683,3 triliun (31,2 persen) dari target tahun 2025. Bea dan cukai mengumpulkan Rp 122,9 triliun (40,7 persen) dari target tahun ini. "Ini cukup bagus dari sisi pencapaian prosentase terhadap target. PNBP kita Rp188,7 triliun, dalam hal ini adalah 36,7 persen dari APBN kita," jelas Menkeu.
"Nah kalau kita lihat realisasi dari April ke Mei menunjukkan dan menggambarkan berapa pendapatan negara terkumpul dari Rp 810,3 triliun ke Rp 995,3 triliun. Hampir Rp 185,7 triliun sendiri untuk satu bulan Mei saja," tambahnya.
Sementara itu, dari sisi belanja negara tercatat Rp 1.016,3 triliun (28,1 persen) dari target Rp 3.621,3 triliun. Belanja pemerintah pusat (BPP) tersalurkan sebesar Rp 694,2 triliun (25,7 persen dari target), yang disalurkan melalui belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp 325,7 triliun dan belanja non-K/L Rp 368,5 triliun.
Sementara belanja transfer ke daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp 322 triliun (35 persen dari target). Dengan kinerja itu, APBN masih mencetak surplus keseimbangan primer sebesar Rp 192,1 triliun, lebih tinggi dari surplus April sebesar Rp 173,9 triliun.
Sedangkan untuk pembiayaan anggaran sampai dengan 31 Mei 2025 terrealisir Rp 324,8 triliun. Ini naik dari bulan April yaitu Rp 279,2 triliun. Menkeu memastikan defisit APBN bertujuan untuk melakukan counter cyclical sehingga ekonomi yang cenderung mengalami tekanan dan perlemahan bisa di-counter siklusnya dengan APBN.
"Sehingga perlemahannya tidak berdampak signifikan terhadap ekonomi dan terutama pada masyarakat," ujarnya.
Terakhir, Sri Mulyani juga mengatakan postur APBN yang telah disampaikan, terutama terkait pendapatan sangat dipengaruhi oleh ekonomi global, geopolitik.
"Bahkan masalah perang bisa mempengaruhi pendapatan negara karena dampaknya spillovernya adalah masuk melalui pertumbuhan ekonomi, harga komoditas dan berbagai perkembangan," pungkasnya.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
