Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Mei 2025 | 02.44 WIB

Investor Global Tarik Dana dari Pasar AS ke Pasar Asia

The Fed (Federal Reserve) atau Bank sentral Amerika Serikat. - Image

The Fed (Federal Reserve) atau Bank sentral Amerika Serikat.

JawaPos.com–Perkembangan perdagangan global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar keuangan dunia. The Federal Reserve (The Fed) nampaknya bakal mulai memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat. Untuk mendorong ekonomi Amerika Serikat (AS) keluar dari resesi.

"Dampak perang dagang diperkirakan mendorong perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, inflasi yang lebih tinggi dan peluang resesi ringan pada ekonomi AS. The Fed kemungkinan akan memotong suku bunga untuk mendorong ekonomi AS keluar dari resesi," ujar analis pasar modal Hans Kwee kepada Jawa Pos, Minggu (11/5).

Aksi para bond vigilantes, yakni pelaku pasar obligasi yang menolak kebijakan moneter maupun fiskal longgar, berpotensi membuat kebijakan tinggi tarif Trump melunak. "Dengan demikian, bank sentral Amerika itu diperkirakan mulai menurunkan Fed funds rate pada Juli 2025. Setelah dampak tarif terhadap data ekonomi mulai terlihat," jelas Hans Kwee.

Katalis positif lainnya datang dari perkembangan kesepakatan dagang antara AS dan Inggris. Ada pula, data ekspor Tiongkok yang mencatat pertumbuhan mengejutkan pada April 2025. Yakni meningkat sebesar 9,3 persen year-on-year (YoY) yang menunjukkan daya tahan ekonomi negeri tirai bambu di tengah tekanan perang dagang.

"Negosiasi dagang Tiongkok-AS adalah yang paling dinantikan pelaku pasar. Terlihat investor global mulai menarik dana dari pasar AS dan memindahkannya ke pasar Asia sebagai respon ketidakpastian kebijakan tarif Trump," ucap dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.

Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian ini, kata Hans, emas merupakan aset yang berpeluang menjadi pemenang. Mengingat sifatnya sebagai instrumen lindung nilai.

Dia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 yang berada di bawah 5 persen. Nampaknya, tren tersebut masih akan berlanjut pada kuartal II 2025.

Sejalan dengan pelemahan daya beli masyarakat serta ketidakpastian dari negosiasi dagang antara Indonesia dan AS yang belum menunjukkan perkembangan signifikan. Di tengah dinamika global dan tantangan domestik, IHSG diperkirakan masih berpeluang mengalami penguatan.

"IHSG berpotensi bergerak naik terbatas dengan level support di kisaran 6.800 hingga 6.725 dan resistance di 6.900 hingga 6.970," terang Hans Kwee.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore