Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Maret 2025 | 04.53 WIB

IHSG Masih Zona Merah, Buyback Saham untuk Jaga Kepercayaan Pasar

Dirut BEI Iman Rachman (lima dari kiri), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi (tujuh dari kiri), bersama para pelaku pasar. (Istimewa) - Image

Dirut BEI Iman Rachman (lima dari kiri), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi (tujuh dari kiri), bersama para pelaku pasar. (Istimewa)

JawaPos.com–Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berada di zona merah. Volatilitas pasar keuangan tetap tinggi seiring ketidakpastian ekonomi dan konflik geopolitik yang terus berkembang. Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal merumuskan kebijakan untuk meningkatkan kepercayaan investor.

Analis pasar modal Hans Kwee menilai kebijakan buyback saham yang dapat dilakukan tanpa harus menunggu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) akan mempercepat langkah perusahaan dalam memberikan sinyal positif kepada pasar. Khususnya dalam situasi pasar yang tengah mengalami tekanan.

”Program buyback saham bagus, karena kalau menunggu RUPS prosesnya akan lama. Oleh karena itu, kita perlu membuka kesempatan bagi perusahaan untuk melakukan buyback saham tanpa menunggu RUPS,” terang Hans kepada Jawa Pos, Selasa (4/3).

Dia menjelaskan, ketika sebuah perusahaan melakukan buyback saham, hal tersebut memberikan sinyal kepada pelaku pasar bahwa saham perusahaan tersebut dianggap murah. Sebab, manajemen perusahaan yang paling memahami kondisi internal perusahaan. Sehingga ketika memutuskan untuk buyback, menunjukkan keyakinan mereka terhadap nilai intrinsik perusahaan yang lebih tinggi dibandingkan harga saham yang ada di pasar.

”Ketika manajemen memutuskan untuk melakukan buyback, itu berarti mereka tahu saham mereka murah. Karena manajemen adalah orang yang paling tahu kondisi perusahaan,” jelas Hans Kwee, dosen Magister Fakultas Ekonomi Bisnis Unika Atma Jaya itu.

Dengan melakukan buyback, perusahaan secara tidak langsung mengundang masyarakat dan investor untuk lebih optimistis terhadap prospek perusahaan. Yang pada gilirannya akan meningkatkan minat beli saham. ”Dengan program itu, masyarakat akan optimis, jadi ikut beli sahamnya,” imbuh Hans Kwee.

Hans juga menyoroti bahwa aksi pembelian saham oleh manajemen perusahaan, yang sering dilakukan direksi. Upaya tersebut juga memberikan sinyal yang sama dengan buyback saham. Aksi ini menunjukkan bahwa direksi yang merupakan bagian dari pelaku perusahaan, memiliki keyakinan bahwa harga saham yang ada di pasar lebih rendah dari nilai sesungguhnya.

Menurut dia, strategi ini memiliki nilai yang setara dengan buyback saham. Meskipun berbeda dalam pelaksanaannya secara hukum. Dengan kebijakan ini, diharapkan pasar dapat kembali stabil dan memperkuat kepercayaan investor, baik domestik maupun asing, terhadap pasar modal Indonesia.

Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik sedang mengkaji kebijakan bagi emiten yang buyback tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) jika diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk menjaga stabilitas harga saham di pasar dengan meningkatkan permintaan saham.

”Kalau itu memang dibutuhkan oleh para stakeholders untuk menjaga confidence di pasar kita, tentu bagiannya bursa, akan kami kaji. Harapannya adalah menjaga confidence pasar,” kata Jeffrey.

Kebijakan buyback saham, lanjut dia, diharapkan dapat memberikan dampak positif. Salah satunya dengan mendorong kenaikan harga saham akibat adanya penambahan permintaan di pasar. BEI juga terus melakukan upaya untuk menarik minat investor asing agar kembali berinvestasi di pasar modal Indonesia.

”Kami terus berkomunikasi dengan investor global, dan juga dengan investor domestik baik ritel maupun institusional. Tujuannya untuk memastikan bahwa basis investor domestik kita menjadi jauh lebih solid,” ucap Jeffrey.

OJK bersama BEI telah bertemu dengan sejumlah pelaku pasar untuk mendapatkan pandangan terkait perkembangan pasar modal terkini. Serta mengidentifikasi tantangan dan kebutuhan pasar guna memastikan stabilitas dan ketahanan pasar modal tanah air.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengapresiasi partisipasi berbagai pihak dalam memberikan masuk terhadap kondisi pasar modal saat ini.

”Kami mendengarkan banyak sekali masukan-masukan konstruktif dari pelaku sekaligus stakeholder pasar modal yang tentunya akan segera kita tindak lanjuti sesuai dengan kapasitas dan peran kami masing-masing,” ungkap Inarno Djajadi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore