Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Maret 2021 | 04.54 WIB

EWINDO Dorong Milenial Geluti Bisnis Pertanian di Masa Pandemi

Sistem budidaya ramah lingkungan saat ini sudah berkembang luas di sentra-sentra produksi buah dan sayuran di Indonesia. (Kementan for JawaPos.com) - Image

Sistem budidaya ramah lingkungan saat ini sudah berkembang luas di sentra-sentra produksi buah dan sayuran di Indonesia. (Kementan for JawaPos.com)

JawaPos.com - Perusahaan benih sayuran PT East West Seed Indonesia (EWINDO) menggelar webinar bertajuk Peluang Petani Millenial di Era Digital untuk mendorong generasi milenial terjun di bisnis pertanian. Managing Director EWINDO Glenn Pardede mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah strategi agar generasi muda tertarik menekuni bisnis pertanian.

“Tahun ini, kami menargetkan membina sekitar 500 petani milenial yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Selain pendampingan, juga transfer teknologi dan akses terhadap benih sayuran yang berkualitas tinggi," ujar Glenn dalam siaran pers yang diterima JawaPos.com.

Glenn menambahkan, melalui aplikasi pertanian SIPINDO, para petani milenial juga bisa mengelola bisnis pertaniannya dengan lebih baik dan semakin menguntungkan. Diharapkan, hal ini akan menular ke generasi muda lainnya.

"Target ini juga bagian dari dukungan terhadap program 5.000 petani milenial yang dicanangkan oleh Pemprov Jabar," katanya.

Ia memaparkan, menurut data Kementerian Pertanian, petani muda Indonesia berusia 20-39 tahun hanya 2,7 juta orang saja, atau hanya sekitar 8% dari total petani kita yang 33,4 juta orang. Kurangnya peminat anak-anak muda di bidang pertanian membuat sektor pertanian mengalami krisis regenerasi.

Padahal, berdasarkan hasil penelitian The Economist Inteligence Unit (EIU), sektor pertanian terbukti terkena dampak paling kecil dibandingkan sektor lain. Hal ini terjadi karena dampak dari pembatasan sosial relatif minimal pada sektor pertanian, walaupun masih ada risiko dari disrupsi rantai penawaran dan merosotnya permintaan.

Akibat pandemi, EIU merevisi pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 3.0% menjadi -1.5% (terkoreksi -4.5%), sektor jasa sebesar 7.2% menjadi 2.4% (terkoreksi -4.8%), dan pertumbuhan sektor pertanian hanya direvisi dari 4.1% menjadi 3.2% (-0.9%).

Selain itu, sejarah krisis moneter di Indonesia pada 1997-1998 menyisakan catatan relatif bertahannya sektor pertanian dan bahkan menampung kembali tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan di perkotaan. Menurut data BPS penjualan benih dan pot mengalami peningkatan masif sebesar 1000% dari 100 ribu unit di masa sebelum pandemi menjadi 1,1 juta unit selama pandemi.

"Tampaknya, peran sektor pertanian sebagai sektor penyangga di masa krisis terulang kembali pada resesi dunia dan pandemi Covid-19 yang masih kita alami hingga saat ini," tutupnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore