Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.
JawaPos.com - Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa realisasi investasi Asing di RI tercatat tinggi meskipun telah memasuki tahun politik. Bahkan, wait and see yang biasanya terjadi malah ditanggapi agresif oleh para investor luar negeri.
Hal ini disampaikan Bahlil saat melaporkan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal III 2023 yang tercatat tinggi sebesar Rp 196,2 triliun dibandingkan dengan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 178,2 triliun.
Menurut Bahlil, PMA yang lebih besar merupakan bukti bahwa Indonesia masih menjadi daya tarik investasi secara global meskipun di tengah tahun politik. "Ini mungkin sejarah dalam bangsa kita, bahwa sekalipun kita sekarang masuk dalam tahun politik. tapi global itu menaruh perhatian dan kepercayaan yang sangat luar biasa ditandai dengan realisasi investasi ini," kata Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (20/10).
Bahkan Bahlil menyebut, realisasi investasi asing di tanah air cenderung agresif. Pasalnya, investasi terus mengalir di tengah kebiasaan investor yang cenderung wait and see jika menghadapi tahun politik.
"Jadi, kalau ada orang menyebut investasi di tahun politik wait and see itu biasa. Tapi ini yang terjadi bukan wait and see, tapi mereka malah agresif untuk merealisasi investasi yang telah mereka komitmenkan dan PMDN juga Alhamdulillah tumbuh. Jadi, memang stabilitas pertumbuhan ekonomi kita cukup baik meskipun kita di tahun politik," jelasnya.
Sebelumnya, realisasi PMA yang lebih tinggi dari PMDN juga telah tercermin sepanjang semester I 2023. Hal ini tercatat dari kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) pada semester I 2023 mencapai Rp 363,3 triliun atau tumbuh 17,1 persen YoY. Angka tersebut melampaui Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 315,4 triliun atau 15 persen dari capaian investasi periode ini.
Pada periode semester I 2023 ini, realisasi PMA dan PMDN pada sektor manufaktur khususnya industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menempati urutan pertama sebesar Rp 89 miliar.
Lalu, disusul oleh sektor pertambangan sebesar Rp 71,4 triliun; industri kimia dan farmasi sebesar Rp 48,1 triliun; sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi Rp 79,1 triliun; sektor perumahan, kawasan industri perkantoran sebesar Rp 58,3 triliun, dan sektor industri kimia dan farmasi senilai Rp 48,1 triliun.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
