Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 September 2023 | 05.18 WIB

Kredit Mikro Tumbuh Double Digit, BRI Raup Laba Rp 29,56 Triliun

Ilustrasi cara melihat dan mengecek nomor rekening BRI.

JawaPos.com - Pertumbuhan kredit mikro dan current account and savings account (CASA) yang mencapai double digit mendorong kinerja positif PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) pada triwulan II 2023. Tercatat, laba konsolidasian bank pelat merah itu tumbuh 18,83 persen secara tahunan menjadi senilai Rp 29,56 triliun. Begitu pula, aset yang meningkat 9,21 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 1.805,15 triliun.

Dari sisi penyaluran kredit, BRI berhasil menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp 1.202,13 triliun. Segmen mikro menjadi penopang utama pertumbuhan intermediasi sebesar 11,41 persen YoY menjadi Rp577,94 triliun. Dengan demikian, porsi kredit mikro sebanyak 48,08 persen terhadap total penyaluran kredit perseroan.

Penyaluran kredit mikro yang tumbuh double digit membuat proporsi kredit UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) BRI juga terus meningkat. Hingga akhir triwulan II 2023, porsinya mencapai 84,48 persen dari total kredit atau senilai Rp 1.015,54 triliun.

"Hal ini menjadi pertama kalinya kredit UMKM BRI menembus di atas Rp 1.000 triliun, dan kami berkomitmen untuk terus meningkatkan porsi kredit UMKM mencapai 85 persen di 2024," kata Direktur Utama BRI Sunarso pada paparan kinerja, Rabu (30/8).

Khusus untuk perkembangan Holding Ultra Mikro (UMi) telah berhasil mengintegrasikan lebih dari 36 juta nasabah pinjaman dan 162 juta nasabah simpanan mikro. Didukung 1.013 unit kantor co-location sentra.
 
Meski demikian, Sunarso memastikan menjaga kualitas kredit yang disalurkan. NPL BRI hingga akhir triwulan II 2023 sebesar 2,95 persen. Membaik jika dibandingkan dengan NPL pada triwulan II 2022 di level 3,26 persen. Praktis, membuat credit cost bank turun dari 3,11 persen tahun lalu menjadi 2,26 persen.

"Tercatat NPL coverage BRI sebesar 248,54 persen," ungkap Sunarso.

Menurut dia, pertumbuhan berkelanjutan bank didukung penghimpunan CASA dan efisiensi. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BRI senilai Rp 1.245,12 triliun. Terutama, bersumber pada dana murah yang tercatat tumbuh 10,13 persen YoY menjadi Rp 815,42 triliun. Porsi CASA dari giro dan tabungan tumbuh menjadi 65,49 persen.

Sunarso menjelaskan, terdapat dua strategi utama untuk mendorong penghimpunan CASA ke depan. Yakni fokus pada retensi dan akuisisi. Untuk retensi, akan fokus pada transaksi digital, mengoptimalkan value chain nasabah wholesale, serta menggunakan big data untuk memaksimalkan peluang dari nasabah.

"Sedangkan akuisisi, BRI akan menargetkan ekosistem bisnis serta merchant," imbuhnya.

Dia juga memastikan likuiditas dan permodalan BRI memadai. Tecermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,26 persen dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 26,65 persen. "Ditopang oleh likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat tersebut, BRI optimistis akan mampu mendorong menggerakkan perekonomian nasional melalui pembiayaan dan pemberdayaan UMKM," tandas Sunarso.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menambah insentif likuiditas makroprudensial bagi perbankan yang rajin menyalurkan pembiayaan. Khususnya kredit ke sektor-sektor prioritas. Kebijakan berlaku mulai 1 Oktober 2023.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro menuturkan, insentif diberikan dalam bentuk pengurangan giro wajib minimum (GWM). Pelonggaran itu setidaknya akan mengerek 0,6-0,7 persen pertumbuhan kredit bank. Kebijakan tersebut turut menopang kenaikan likuiditas mencapai Rp 50 triliun sehingga penyaluran kredit bank meningkat.

"Memang secara kasar ada tambahan insentif likuiditas yang akan memberikan ruang penyaluran kredit pembiayaan sekitar Rp 50 triliun. Itu semua insentif mana kala bisa memanfaatkan semuanya (kredit)," ucapnya.

Adapun lima sektor prioritas penyaluran kredit bank dalam kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) meliputi hilirisasi, perumahan, pariwisata, inklusif (KUR dan ultra mikro), serta pembiayaan hijau. Hingga 14 Juni 2023, terdapat 122 bank yang mendapat insentif tersebut. Sehingga memperoleh total likuiditas senilai Rp 108,4 triliun.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore