Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Agustus 2023 | 02.44 WIB

Pernah Disentil Jokowi, Impor Senjata Masih Tinggi Per Januari-Juli Capai USD 102,39 Juta

Ilustrasi. Impor senjata RI masih tinggi sepanjang Januari-Juli 2023. (Dok JawaPos.com) - Image

Ilustrasi. Impor senjata RI masih tinggi sepanjang Januari-Juli 2023. (Dok JawaPos.com)

 
JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka impor senjata pada Januari hingga Juli 2023 masih tinggi mencapai USD 102,390 juta. Bahkan, secara nilai semakin melonjak usai Presiden Joko Widodo menyentil Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Polri pada Maret lalu.
 
Berdasarkan data BPS, menurut asal negaranya, impor senjata paling banyak diimpor dari Korea Selatan senilai USD 25 juta. Kemudian disusul oleh Tiongkok USD 19,1 juta, Amerika Selatan senilai USD 15 juta, Afrika Selatan USD 10,656 juta, Spanyol senilai USD 6 juta, dan negara lainnya secara kumulatif sebesar USD 78,04 juta.
 
Dilihat dari jenisnya, senjata yang paling banyak diimpor adalah bom, granat, torpedo, ranjau, peluru kendali, dan senjata sejenisnya senilai USD 26,92 juta sepanjang Januari-Juli 2023. Untuk jenis ini, Khusus Juli saja terjadi impor USD 7,16 juta, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang menembus USD 14,33 juta. 
 
 
Kemudian, impor amunisi dan proyektil lainnya senilai USD 17,24 juta dan senjata militer selain revolver dan pistol senilai USD 13,53 juta.
 
Ketiga yakni amunisi dan proyektil senjata lainnya serta bagiannya, termasuk peluru dengan nilai impor USD 17,24 juta sepanjang Januari-Juli 2023. Per Juli angkanya meningkat menjadi USD 558.117, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai USD 102.616.
 
Keempat, alutsista jenis shotgun cartridges nilai impornya mencapai USD 11,21 juta. Pada Juli 2023 angkanya menjadi yang tertinggi di mana nilainya mencapai USD 11,02 juta, padahal Mei angkanya sempat nol.
 
Kelima, ada kelompok spring or gas guns and pistols, excluding arms of heading dengan nilai impor mencapai USD 7,20 juta sepanjang Januari-Juli 2023. Lalu alutsista kategori lainnya mencapai USD 26,27 juta.
 
Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan seluruh jajaran pemerintah baik pusat maupun daerah serta badan usaha milik negara (BUMN) untuk disiplin dalam mengimplementasikan kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN).
 
Hal tersebut ditegaskan Presiden saat membuka Business Matching Produk Dalam Negeri Tahun 20223, Rabu (15/3), di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta.
 
“Kuncinya adalah kedisiplinan implementasi [P3DN], kedisiplinan dalam merealisasikan dari apa yang sudah bolak-balik kita melakukan pertemuan. Ini seingat saya, saya sudah berbicara mengenai produk dalam negeri, penggunaan produk dalam negeri ini yang keempat,” ujar Presiden.
 
Presiden juga kembali mengingatkan agar anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang diperoleh dari pajak, dividen BUMN, royalti dari tambang, hingga penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tidak digunakan untuk membeli produk impor.
 
“Banyak sekali pembelian produk-produk impor kita, padahal sumbernya pembelian itu uang APBN. Inilah yang ingin kita luruskan,” tegasnya.
 
Presiden mencontohkan, pengadaan seragam militer untuk TNI dan Polri harus dipenuhi dengan produk dalam negeri karena Indonesia adalah produsen dari seragam tersebut.
 
“Jangan sampai, ini saya minta di Kemenhan, di Polri, seragam militer, kita ini bisa bikin, ekspor ke semua negara, eh kita malah beli dari luar. Sepatu, senjata, kita bisa bikin loh. Kalau yang canggih-canggih, silakan, yang mau beli pesawat tempur, karena memang kita belum bisa. Tapi kalau senjata, peluru, kita sudah bisa, apalagi hanya sepatu,” tandasnya.
 
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore