Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Agustus 2021 | 05.48 WIB

Pemerintah Kejar Target Dana Abadi Riset Rp 100 Triliun

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko setelah dilantik di Auditorium Utama LIPI, Jakarta, Kamis (31/5) - Image

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko setelah dilantik di Auditorium Utama LIPI, Jakarta, Kamis (31/5)

JawaPos.com – Pemerintah mulai menyisihkan anggaran untuk mengisi dompet dana abadi riset atau penelitian. Saat ini jumlah yang tersimpan masih Rp 5 triliun.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menyampaikan pemerintah mengejar target dana abadi riset mencapai Rp 100 triliun. Mantan kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menyampaikan dana abadi riset atau penelitian merupakan amanah dari UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

"Target dana pokok sama dengan dana abadi pendidikan. Yaitu Rp 100 triliun," katanya Rabu (19/8).

Handoko mengatakan dana abadi riset saat ini masih terkumpul Rp 5 triliun. Dana itu dikumpulkan sejak 2019 lalu. Dia menjelaskan pengelolaan dana abadi riset itu berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Hampir sama dengan pengelolaan dana abadi pendidikan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kemenkeu. Dia menjelaskan tahun depan DPR mengusulkan simpanan pokok dana abadi riset ditambah lagi Rp 5 triliun.

Nantinya hasil pengelolaan atau imbal hasil pengelolaan dana abadi riset diserahkan ke BRIN. Kemudian oleh BRIN disalurkan ke sejumlah lembaga riset untuk dana hibah riset kompetitif.

Handoko menjelaskan peneliti yang berhak mendapatkan hibah dana riset itu bisa berasal dari banyak lembaga. Mulai dari lembaga riset di bawah naungan BRIN, perguruan tinggi, maupun swasta.

Dia menjelaskan untuk saat ini nilai imbal hasil dana abadi riset belum signifikan. Kemudian dana hasil pengelolaan itu belum bisa disalurkan karena masih menunggu keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) Dana Abadi Riset.

Menurut Handoko dalam seminar Kebijakan dan Strategi Riset dan Inovasi Teknologi Kebencanaan, saat ini banyak kegiatan riset atau inovasi yang menjadi prioritas pemerintah. Diantaranya adalah riset di bidang kebencanaan. Dia mengatakan riset di bidang kebencanaan memiliki banyak tantangan. Mulai dari memahami karakteristik bencana dan luasnya wilayah Indonesia.

"Dalam pengembangan teknologi kebencanaan, orang tentunya ingin yang praktis, murah, awet, dan akurat. Ini idealnya," katanya.

Dia mencontohkan inovasi kebencanaan deteksi dini tsunami oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang berbasis buoy dan kabel (CBT). Dari keduanya tentu harus dipilih mana yang paling masuk akal, praktis, murah, dan pertimbangan lainnya.

Handoko mengapresiasi BPPT karena banyak menghasilkan riset kebencanaan. Selain soal tsunami juga ada riset sistem peringatan dini banjir (flood early warning system), sistem peringatan dini bencana longsor (landslide early warning system), sistem kajian kerentanan struktur bertingkat, serta sistem kecerdasan artifisial untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore