Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Agustus 2020 | 19.32 WIB

Di Empat Kota ini, Harga Emas Perhiasan Naik Paling Tinggi

Pemilik toko emas menata perhiasan emas miliknya di salah satu Toko Emas Cikini, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Berdasarkan informasi dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas Antam dibanderol harga Rp842.000 per gram, turun Rp - Image

Pemilik toko emas menata perhiasan emas miliknya di salah satu Toko Emas Cikini, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Berdasarkan informasi dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas Antam dibanderol harga Rp842.000 per gram, turun Rp

JawaPos.com - Reli harga emas global akibat Covid-19 dan ketegangan antara Amerika Serikat (AS)-Tiongkok juga berimbas terhadap perdagangan logam mulia di dalam negeri. Bahkan berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Juli 2020, dan menjadi penghambat deflasi.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, dari 11 kelompok pengeluaran, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi yakni sebesar 0,93 persen dan memberikan andil 0,06 persen. Pria yang akrab disapa Kecuk itu menyebut, komoditas dominan pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya ini adalah emas perhiasan, yang memberikan andil ke inflasi 0,05 persen.

"Harga emas terus naik tajam dan mencapai puncaknya pada hari-hari terakhir ini. Kenaikan harga emas terjadi di 80 kota IHK (indeks harga konsumen), tertinggi di Bungo 10 persen, diikuti Tarakan, Medan, dan Padang dengan kenaikan 9 persen," kata Kecuk dalam konferensi pers virtual, Senin (3/8).

Sebagaimana diketahui, BPS melaporkan indeks harga konsumen pada Juli 2020 mengalami deflasi sebesar 0,10 persen. Dengan demikian, maka inflasi tahun kalender (Januari hingga Juli 2020) mencapai sebesar 0,98 persen, dan inflasi tahun ke tahun (Juli 2020 dibanding Juli 2019) sebesar 1,54 persen.

baca juga: Juli 2020 Deflasi 0,10 Persen, BPS Sebut Daya Beli Perlu Ditingkatkan

Dari 11 kelompok pengeluaran, Kecuk mengatakan, tiga kelompok mengalami deflasi pada Juli 2020. Pertama yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau (mamintem) yang mengalami deflasi sebesar 0,73 persen, dengan andil -0,19 persen.

Kecuk merincikan dari kelompok mamintem ini komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi yaitu bawang merah (0,11 persen), daging ayam ras (0,04 persen), bawang putih (0,03 persen), serta beras, jeruk, cabai rawit, kepala dan gula pasir (masing-masing 0,01 persen). Sedangkan komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yaitu telur ayam ras (0,04 persen), dan rokok putih (0,01 persen).

"Banyak sekali komoditas pangan yang mengalami penurunan harga lumayan tajam. Makanya kelompok mamintem bulan ini andilnya terhadap deflasi 0,19 persen," kata Kecuk.

Kelompok pengeluaran kedua yang mengalami deflasi yakni kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen. Sementara itu, kelompok pengeluaran ketiga yang mengalami deflasi yakni kelompok transportasi sebesar 0,17 persen dengan andil -0,02 persen.

Kecuk mengatakan, komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi pada kelompok transportasi ini adalah turunnya tarif angkutan udara, dengan andil 0,05 persen. Namun di sisi lain, masih ada komoditas transportasi yang mengalami kenaikan harga.

"Tarif angkutan antarkota dan tarif kendaraan roda 4 online, masing-masing andilnya 0,01 persen. Tetapi, penurunan tarif angkutan udara yang cukup dalam tidak bisa terkompensasi dengan kenaikan tarif angkutan antarkota dan kendaraan roda 4 online," pungkas Kecuk.

https://www.youtube.com/watch?v=HFeYFmQLXrA

 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore