Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Juli 2017 | 18.30 WIB

Sebelum Indonesia, 50 Negara Pernah Redenominasi, Turki Sukses, Rusia Gagal

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Sebelum Indonesia yang baru merencanakan redenominasi, sejumlah negara lain telah pernah melakukan hal serupa. Hanya saja tidak semua negara yang berhasil.


Upaya redenominasi ini sudah pernah dilakukan di berbagai negara sejak 1923. Kala itu Jerman memangkas 12 digit angka 0 pada mata uangnya. Itu merupakan rekor redenominasi terbesar sepanjang sejarah. Sejak saat itu, tercatat ada 50 negara yang melakukan redenominasi.


Di antara sekian banyak negara tersebut, ada yang sukses, ada pula yang gagal. Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, ada beberapa prasyarat agar redenominasi sukses. "Saat ini indikator ekonomi Indonesia cukup bagus,” ujarnya kemarin (25/7).


Beberapa indikator itu adalah tingkat inflasi yang rendah di level 3,3 persen. Lalu, pertumbuhan ekonomi yang sudah masuk tren rebound di angka 5,01 persen serta cadangan devisa yang besar senilai USD 123,09 miliar pada Juni 2017.


Selain itu, lanjut dia, pemerintah terlihat lebih serius menangani masalah struktural ekonomi. Misalnya, memperbaiki basis data perpajakan dan pola pemberian subsidi. Jika pemerintah memang serius, perbaikan-perbaikan kondisi ekonomi harus diimbangi dengan sosialisasi yang baik kepada masyarakat. ’’Itu kuncinya,” katanya.


Menurut dia, periode krusial dalam redenominasi adalah masa transisi. Bank Indonesia (BI) sudah menyebut akan ada proses persiapan, peralihan, dan penggunaan penuh uang baru hasil redenominasi. "Ini harus disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat dan pelaku usaha. Selain itu, harus ada dukungan politik dari DPR,” ucapnya.


Dalam sejarahnya, pelaksanaan redenominasi memang tidak selalu mulus. Beberapa negara memang tercatat sukses, tapi ada pula yang gagal total.


Turki termasuk salah satu negara yang mencatat kisah sukses. Keberhasilan tersebut dijadikan acuan oleh negara-negara lain yang ingin menerapkan kebijakan serupa.


Berawal dari rendahnya nilai tukar mata uang lira terhadap dolar AS, pemerintah Turki mulai mencanangkan program redenominasi pada 1998. Setelah melakukan persiapan berupa konsultasi publik maupun sosialisasi selama tujuh tahun, pemerintah Turki melaksanakan redenominasi pada 1 Januari 2005. Ketika itu, Turki menghilangkan enam angka 0 sehingga 1.000.000 lira sama dengan 1 new lira.


Sebagai gambaran, pada 2004 sebelum redenominasi, nilai tukar lira terhadap dolar AS sekitar 1,32 juta. Setelah redenominasi, nilainya menjadi 1,32 new lira per USD. Bagaimana redenominasi Turki sukses?


Pertama, Turki melaksanakan redenominasi pada awal tahun (1 Januari) sehingga seluruh pembukuan anggaran negara maupun perusahaan bisa langsung dicatat dengan menggunakan mata uang baru.


Kedua, Turki melakukannya secara bertahap. Pada tahap awal, Turki menerbitkan pecahan mata uang baru dengan kode YTL atau Yeni Turkey Lira. Yeni merupakan bahasa Turki yang berarti "baru".


Dengan begitu, pecahan terbesar mata uang lama yang mencapai 20.000.000 TL diganti menjadi 20 YTL. Setelah redenominasi, Turki memiliki mata uang kertas baru, yakni 1 YTL (menggantikan 1.000.000 TL), 5 YTL, 10 YTL, 20 YTL, 50 YTL, hingga 100 YTL. Agar masyarakat tidak bingung, Turki menerbitkan mata uang baru yang tampilan, warna, atau desainnya serupa dengan mata uang lama.


Ketika awal redenominasi, dua mata uang beredar di Turki. Yakni, mata uang lama (TL) dan mata uang baru (YTL). Pada saat itu, masyarakat sudah diimbau untuk mulai menukarkan mata uang lama di bank. Setahun kemudian, mata uang lama (TL) ditarik dari peredaran sehingga pada tahun ke-3, tinggal uang baru (YTL) yang beredar di pasaran.


Total, Turki membutuhkan waktu 10 tahun, terhitung mulai proses konsultasi dan sosialisasi pada 1998 hingga tuntas pada 2008. Beberapa literatur menyebutkan, kunci sukses redenominasi Turki adalah pengawasan ketat pemerintah dalam melakukan stabilisasi harga sehingga ancaman lonjakan inflasi bisa diredam.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore