
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memenangkan lomba olahraga air melawan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga S Uno, di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/2).
JawaPos.com - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti menuturkan, kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing luar biasa besar. Tak hanya dari komoditasnya itu sendiri, melainkan juga dari potensi penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Susi pun teringat pernah berada dalam satu seminar bersama Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Pemerintah waktu itu sedang membereskan kapal-kapal ikan dalam negeri.
"Dari 5 ribu lebih kapal yang terdaftar di atas 100 GT, itu kepemilikan paling besar hanya didominasi 8 company," kata Susi dalam sebuah webinar akhir pekan ini.
Jika dilihat arus uangnya, lanjutnya, maka terlihat 8 perusahaan tersebut mengerucut ke 3-4 korporasi grup atau negara. Susi pun menarik kesimpulan, dari situ terlihat bahwa ada kartel besar yang menguasai sumber daya laut Indonesia.
"Mereka ini bahkan, pajak tidak masuk, PNBP juga tidak masuk," imbuhnya.
Yang menarik, kata Susi, dalam kesempatan seminar itu ada pengusaha yang mengeluhkan sulit mendapatkan izin pembukaan usaha perikanan tangkap di Indonesia. Susi pun bertanya apa kesulitan yang dihadapi pengusaha tersebut.
Susi juga menanyakan berapa kapal yang dimiliki dan akan diurus izinnya. "Dia (pengusaha itu) jawab 'mungkin dua'. Bagaimana orang punya kapal ratusan GT yang panjangnya di atas 20 meter, kapalnya aja tidak ingat?" kata Susi heran.
"Sampai Bu Sri bilang 'Wah, iki ta sawat (lempar) wae pake sepatu'. Saya bilang, ya saya juga mau tuh lempar pakai sepatu saya yang high heels," lanjut Susi.
Mengingat momen tersebut, Susi menyampaikan pentingnya aktivitas perikanan tangkap tidak hanya regulated, tetapi juga reported. "Kita punya anev (analisis dan evaluasi), dari Muara Baru saja, harusnya pajak yang bisa dipetik Bu Sri Mulyani Rp 25 triliunan, kalau kita benar mendata hasil tangkapannya," terangnya.
Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria dalam kesempatan sama menuturkan, ada banyak versi tentang kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas IUU Fishing. Sebuah sumber menyebutkan, nilai aktivitas IUU Fishing di laut lepas mencapai USD 1,2 miliar per tahun.
Jika kegiatan IUU Fishing yang terjadi di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dimasukkan, maka angka estimasinya menjadi USD 10-23,5 miliar per tahun. Sekitar 11-26 juta ton ikan hilang akibat pencurian ikan ilegal, atau rata-rata 18 persen dari seluruh usaha perikanan tangkap di dunia.
"Indonesia kehilangan sekitar USD 3 miliar per tahun akibat IUU Fishing," pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
