alexametrics

Sri Mulyani: Perjalanan Pulihkan Ekonomi Masih Panjang

11 November 2020, 23:43:55 WIB

JawaPos.com – Pemulihan ekonomi nasional sebaiknya tidak hanya bertumpu pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menggarisbawahi pentingnya sumber daya manusia (SDM), daya saing, dan produktivitas dalam mekanisme pemulihan ekonomi nasional.

Selasa (10/11) Ani, sapaan Sri Mulyani, menegaskan bahwa APBN punya manfaat yang sangat besar dan luar biasa di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. “APBN melakukan tugasnya secara luar biasa pada tahun ini. Tapi, ini bukan episode terakhir. Masih panjang perjalanan kita untuk memulihkan perekonomian,” jelasnya di Jakarta.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu mengajak semua pihak untuk terus mengawal efektivitas APBN. Setidaknya, sampai Indonesia benar-benar bisa keluar dari tekanan ekonomi. Sejauh ini, belanja pemerintah yang lebih besar daripada penerimaan membuat APBN tekor terus.

Ani menjelaskan bahwa kondisi itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Seluruh negara di dunia, menurut dia, mengalami defisit fiskal hingga di atas 10 persen.

Kendati demikian, dia optimistis defisit 2021 berada pada angka 5,5 persen dari produksi domestik bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah daripada defisit tahun ini yang diperkirakan tembus 6,3 persen. Itu juga lebih rendah daripada target APBN 2021 yang tercatat sebesar 5,7 persen.

baca juga: Sri Mulyani Optimistis Defisit Tahun Depan Bisa di Bawah Target APBN

“Indonesia sama dengan semua negara lain dalam melakukan countercyclical kebijakan fiskal. Itu membuat defisit APBN meningkat. Sekarang diperkirakan 6,3 persen dan tahun depan 5,5 persen,” kata Ani.

Dalam APBN 2021, pemerintah sudah menetapkan defisit sebesar 5,7 persen atau Rp 1.006,4 triliun. Defisit tersebut lebih lebar 0,2 persen daripada sebelumnya yang berkisar pada angka 5,5 persen. Sementara itu, proyeksi penerimaan negara turun Rp 32,7 triliun menjadi Rp 1.743,6 triliun dari sebelumnya Rp 1.776,4 triliun.

Sebelumnya, Yustinus Prastowo, staf khusus menteri keuangan, menyebutkan bahwa perekonomian Indonesia berada pada titik balik akibat pandemi. Dia mengakui, pada awal pandemi, pemerintah kurang sigap.

Namun, berangkat dari persoalan itu, pemerintah lantas agresif untuk melakukan berbagai kebijakan. Termasuk juga meluncurkan berbagai insentif dan stimulus bagi hampir seluruh lapisan masyarakat.

Hasilnya, kata Yustinus, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III mengalami perbaikan. “Kuartal III ini mengalami pertumbuhan jika dibandingkan dengan kuartal II. Tumbuh positif. Ini kabar baik,” tandasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (dee/c12/hep)

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads