Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 Mei 2023 | 15.45 WIB

Harga Minyak Mentah Dunia Naik di Tengah Bayang-bayang Kenaikan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi eksplorasi migas PT Saka Energi Indonesia

 
JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia beringsut lebih tinggi dalam perdagangan Selasa pagi, karena pasar mempertimbangkan kesepakatan plafon utang tentatif Amerika Serikat (AS) yang akan mencegah default oleh konsumen minyak utama dunia.
 
Selain itu, harga yang naik terjadi di tengah bayang-bayang kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed lebih lanjut yang dapat mengekang permintaan energi.
 
"Eforia kesepakatan utang berkurang karena kekhawatiran meningkat untuk kenaikan suku bunga lain oleh Fed pada bulan Juni," tulis broker Liquidity Energy LLC dalam sebuah catatan.
 
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent berjangka naik 12 sen atau 0,2 persen menjadi USD 77,07 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 25 sen atau 0,3 persen menjadi USD 72,92 per barel.
 
Presiden AS Joe Biden dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kevin McCarthy selama akhir pekan membuat kesepakatan untuk menangguhkan plafon utang USD 31,4 triliun dan membatasi pengeluaran pemerintah untuk dua tahun ke depan. Kedua pemimpin menyatakan keyakinan bahwa anggota parlemen dari Partai Demokrat dan Republik akan mendukung kesepakatan tersebut.
 
Namun, analis melihat kenaikan harga minyak akan berumur pendek. Pasar sekarang menghargai peluang sekitar 50-50 bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan 13-14 Juni, naik dari peluang 8,3 persen yang diprediksi sebulan lalu.
 
Pada pertemuan kebijakan terakhirnya pada 2-3 Mei, Federal Reserve mengisyaratkan terbuka untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga yang paling agresif sejak awal 1980-an pada bulan Juni.
 
Dolar juga turun pada hari Selasa pagi karena kesepakatan plafon utang mengangkat selera risiko di pasar dunia dan merusak daya tarik safe-haven greenback. Greenback yang lebih rendah membantu permintaan minyak yang dihargai dalam dolar.
 
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, dijadwalkan bertemu pada 4 Juni. Menteri Energi Saudi Abdulaziz bin Salman memperingatkan short-seller yang bertaruh bahwa harga minyak akan turun untuk "diwaspadai", dalam kemungkinan sinyal bahwa OPEC+ dapat memangkas produksi lebih lanjut.
 
Namun, komentar dari pejabat dan sumber perminyakan Rusia, termasuk Wakil Perdana Menteri Alexander Novak , mengindikasikan produsen minyak terbesar ketiga di dunia itu cenderung mempertahankan produksi.
 
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore