Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 September 2025 | 02.04 WIB

Kenapa Ongkir Lebih Mahal dari Harga Barang? Ini 7 Alasan di Balik Biaya Kirim yang Bikin Kening Berkerut

Ilustrasi seseorang sedang berselancar dalam marketplace (Dok. Pixabay) - Image

Ilustrasi seseorang sedang berselancar dalam marketplace (Dok. Pixabay)

JawaPos.com - Bayangkan kamu sedang scrolling marketplace dan menemukan tas unik buatan lokal dari penjual yang berlokasi di Jawa. Harganya terjangkau, cuma Rp 50 000. Tanpa pikir panjang, kamu masukkan ke keranjang belanja. Tapi saat tiba di halaman checkout, ada hal yang bikin kening berkerut: ongkirnya mencapai Rp 150 000, alias tiga kali lipat dari harga barang yang kamu beli.

Kejadian ini bukan mitos, tapi realita yang sering dialami konsumen di luar pulau Jawa, misalnya Kalimantan, Sulawesi, atau Papua. Barangnya kecil, ringan, dan murah, tapi biaya kirim seolah tidak masuk akal. Alhasil, banyak orang memilih batal belanja karena merasa tidak sepadan membayar ongkos kirim yang lebih mahal dari produk itu sendiri.

Jika harga barang terlihat murah tapi ongkir justru selangit, itu tandanya ada faktor besar yang mempengaruhi rantai pengiriman. Jika ditelusuri lebih dalam, ada banyak elemen yang bekerja di balik layar, mulai dari moda transportasi, bahan bakar, hingga infrastruktur di daerah tujuan. Serangkaian faktor yang saling berkaitan ini justru sering kali tak kita sadari saat belanja online yang membuat ongkir kadang lebih tinggi dari harga barang itu sendiri. 

Dilansir dari laman Maersk.com, berikut sejumlah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nominal ongkir sewaktu berbelanja:

1. Jarak dan Zona Distribusi

Mengirim barang dari Jawa ke Kalimantan berarti melewati zona laut atau udara, bisa melibatkan kapal laut, kapal feri, atau penerbangan dan darat. Komponen jarak ini sendiri sudah menambah biaya bahan bakar, penanganan logistik, dan waktu tempuh yang jauh lebih lama daripada pengiriman antar kota di Pulau Jawa.

2. Biaya Bahan Bakar (Fuel)

Transportasi laut, darat, atau udara sangat tergantung pada harga bahan bakar. Saat harga bahan bakar naik, semua biaya logistik ikut terdongkrak dari kapal hingga truk pengantar yang pada akhirnya dibebankan ke ongkir. Maersk bahkan menegaskan fluktuasi harga bahan bakar sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi biaya pengiriman global.

3. Handling dan Penanganan Tambahan (Accessorial Services)

Ongkir tidak hanya mencakup "naik truk" dan "antar ke pintu rumah". Ada banyak aktivitas tambahan: bongkar muat, penyimpanan sementara, handling barang di pelabuhan, lifting pallet, atau bahkan biaya pengiriman ke lokasi terpencil. Layanan tambahan ini seringkali tidak terlihat secara langsung tapi menambah total biaya yang harus ditanggung pengirim atau pembeli.

4. Biaya Minimum / Tarif Dasar Pengiriman

Banyak penyedia jasa ekspedisi menetapkan minimum charge atau ongkos dasar untuk setiap paket, terlepas dari berat atau nilai barang. Artinya, walau barang itu ringan dan murah sekali pun, kamu tetap dikenakan biaya minimal agar penyedia jasa pengiriman bisa menutup biaya operasionalnya.

5. Economies of Scale (Skala Pengiriman)

Jika hanya satu barang kecil yang dikirim sendirian dari Jawa ke Kalimantan, maka biaya per unitnya menjadi besar. Sebaliknya, jika pengiriman berisi banyak barang atau berat total yang besar, biaya per item bisa ditekan lebih efisien. Pengiriman "kecil satuan" sering kali lebih mahal karena biaya tetap (mencakup handling dan transportasi) tidak terbagi ke banyak barang.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore