Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Agustus 2025 | 22.32 WIB

Kenapa Barang Jadul Kini Banyak Dicari dan Jadi Rebutan? Kenali Tren Ekonomi Nostalgia dan Alasannya

Ilustrasi barang-barang antik (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Barang-barang jadul atau vintage kini semakin banyak dicari dan bahkan diperebutkan. Mulai dari piringan hitam (vinyl), kamera digital, aksesori, hingga pakaian, semuanya kembali bangkit menjadi sebuah tren, sehingga permintaan terhadap barang-barang ini meningkat tajam.

Fenomena ekonomi baru ini disebut ekonomi nostalgia. Mengapa begitu? Banyak orang berpikir barang jadul hanya sebatas kenangan dan koleksi. Namun, melihat kondisi saat ini, nostalgia terhadap barang-barang itu justru menciptakan peluang dan nilai baru dalam ekonomi.

Mengutip dari simonkingsnorth.com, secara psikologis, memori memengaruhi emosi seseorang. Generasi muda yang tidak mengalami era tersebut justru tertarik karena faktor unik dan "beda dari yang lain." Hal ini menjadi alasan mengapa gaya berpakaian vintage seringkali dianggap otentik dan nyentrik jika dikenakan di zaman sekarang.

Lebih dari itu, barang-barang jadul juga bisa dijadikan aset untuk investasi. Jam tangan antik, piringan hitam langka, bahkan kendaraan dengan seri tertentu seperti mobil, bisa memiliki harga yang fantastis dan terus naik, menjadikannya sangat menjanjikan.

Media sosial juga berperan penting dalam hal ini. Banyak figur publik dan influencer yang menampilkan gaya retro mereka di media sosial. Secara tidak langsung, hal ini memengaruhi pengikut mereka.

Gaya yang dianggap keren kemudian berubah menjadi panutan, bahkan membuat seseorang rela berkutat seharian dengan gawainya hanya untuk mencari gaya vintage mana yang paling cocok dengan kepribadian mereka.

Popularitas barang jadul saat ini bukan sekadar nostalgia semata. Perasaan bahagia ketika menemukan barang-barang tertentu layakya "harta karun" menjadi kepuasan tersendiri bagi para pemburunya.

Dilansir dari US Chamber of Commerce, artikel mereka menyebutkan bahwa generasi muda justru menghargai merek dengan sejarah panjang. Data juga menunjukkan lebih dari separuh konsumen Gen Z lebih menyukai merek yang sudah lama berdiri karena terlihat lebih otentik dan kredibel.

Dengan membeli barang-barang lawas atau second-hand, secara tidak langsung mereka juga berperan dalam keberlanjutan. Hal ini berbeda dengan fast-fashion yang tidak hanya berujung pada kegiatan konsumtif, tetapi juga menghasilkan banyak limbah yang jumlahnya semakin mengkhawatirkan.

Artikel dari US Chamber of Commerce juga menyebutkan adanya tren baru yang disebut newstalgia, yaitu nostalgia lama dengan sentuhan baru. Nostalgia kini tidak sekadar menghidupkan masa lalu, tapi juga diinterpretasi ulang agar sesuai dengan masa kini.

Contohnya, kamera digital lawas yang kini kembali populer tidak hanya dipakai sebagai alat dokumentasi, tetapi juga dianggap sebagai simbol estetika yang berbeda dari hasil kamera smartphone modern.

Kombinasi antara nilai emosional dan nilai barang-barang lawas itu sendiri menciptakan nilai ganda bagi kedudukan barang-barang jadul di masyarakat saat ini. Nostalgia yang awalnya hanya sebatas perasaan, kini berubah menjadi faktor penting dalam perilaku konsumsi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tren tidak hanya bergerak maju, tetapi juga mundur bahkan berputar. Barang-barang jadul tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari ekonomi baru yang menawarkan nilai lebih, mulai dari keunikan, keberlanjutan, hingga peluang investasi.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore