Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Agustus 2025 | 00.17 WIB

QRIS Kian Populer, Akankah Uang Tunai Tersingkir? Simak Fakta di Balik Tren Pembayaran Digital

Ilustrasi transaksi dengan metode scan QRIS (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi transaksi dengan metode scan QRIS (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) merupakan standar kode QR Nasional yang diluncurkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) pada 17 Agustus 2019.

Kehadiran QRIS kini semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kafe mahal hingga pedagang kaki lima, stiker QRIS mudah ditemukan sebagai opsi pembayaran.

Bagi sebagian orang, QRIS menjadi pilihan tepat di tengah hiruk-pikuk aktivitas padat. Hanya dengan sekali scan, pembayaran bisa langsung terproses dalam waktu kurang dari satu menit. Setiap transaksi juga tercatat jelas, lengkap dengan bukti transfer yang real-time.

Dari sisi pelaku usaha, mereka tak perlu lagi repot dengan uang kembalian atau pencatatan manual. Kekhawatiran akan uang palsu pun hilang karena uang yang masuk berbentuk saldo digital.

Namun, dengan segala kemudahan ini, apakah pembayaran menggunakan uang tunai sudah terlupakan?

Pro dan Kontra QRIS

Kenyataannya tidak sesederhana itu, ada banyak pro dan kontra terkait hal ini. Sebuah penelitian dari International Journal Administration, Business & Organization (IJABO) yang dilakukan terhadap 104 mahasiswa Politeknik Negeri Bandung menunjukkan bahwa sistem pembayaran tunai dan non-tunai masih dianggap sama-sama efektif. Penilaian ini didasarkan pada tiga aspek: kemudahan penggunaan, kenyamanan, dan kecepatan transaksi.

Studi lain yang dipublikasi dalam Jurnal Akuntansi Bisnis & Ekonomi memaparkan bahwa pengaruh sosial dan ketersediaan fasilitas yang memadai memengaruhi niat seseorang untuk melakukan pembayaran non-tunai. Contohnya, kalangan Gen Z yang kesehariannya serba digital. Semakin banyak teman atau lingkungan yang terbiasa menggunakan QRIS, semakin besar kemungkinan mereka mengadopsi sistem pembayaran serupa.

Di sisi lain, kemudahan yang ditawarkan QRIS juga dapat menuntun ke perilaku konsumtif dan pengeluaran berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa posisi QRIS bagaikan pisau bermata dua. Tantangan lain yang sering muncul adalah sinyal internet yang tidak stabil.

Selain itu, kebijakan potongan sebesar 0,3% yang harus ditanggung membuat beberapa pedagang berpikir dua kali untuk menyediakan layanan pembayaran ini.

Uang Tunai dan QRIS Saling Melengkapi

Meninjau dari berbagai hal, dapat dikatakan bahwa QRIS tidak sepenuhnya menggerus kehadiran uang tunai sebagai jenis pembayaran konvensional. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengakses internet atau gawai yang memadai. Literasi finansial juga harus terus ditingkatkan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Uang tunai dan QRIS diharapkan dapat menjadi komponen yang saling melengkapi sesuai kebutuhan masyarakat. Di banyak daerah yang bukan kota besar, uang tunai masih menjadi pilihan utama, terutama untuk transaksi mikro dan di lingkungan dengan minim akses digital. Sebaliknya, di kota-kota yang penduduknya serba cepat, QRIS dinilai lebih praktis.

Pada akhirnya, semua kembali pada pilihan masing-masing. Kedua sistem pembayaran ini tetap relevan dan akan berjalan berdampingan, tergantung pada konteks, kebiasaan, dan akses masyarakat. Hal terpenting bukanlah memilih antara uang tunai atau QRIS, tetapi memilih mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan situasi.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore