Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Agustus 2025 | 02.16 WIB

Inilah Alasan Mengapa Uang Rp100.000 Terasa Cepat Habis di Era Sekarang!

Gambar Pecahan Uang Rp100.000. (Dok. Wikipedia) - Image

Gambar Pecahan Uang Rp100.000. (Dok. Wikipedia)

JawaPos.com – Dulu, saat masih kecil, uang Rp100 ribu terasa begitu besar, seolah bisa membeli apa saja.

Tapi sekarang, uang dengan nominal yang sama bisa lenyap hanya dalam hitungan menit.

Fenomena ini ternyata bukan hanya dirasakan oleh Anda saja, melainkan juga banyak orang. Bukan semata karena nilai uang yang berubah, melainkan juga dipengaruhi oleh inflasi, kebiasaan konsumsi, gaya hidup, hingga cara seseorang dalam mengatur keuangan pribadinya.

Alasan Mengapa Uang Rp100 Ribu Cepat Habis di Era Sekarang

1. Inflasi & Daya Beli

Menurut penelitian yang dipublikasikan di researchgate.net, fluktuasi inflasi ternyata dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Data terbaru dari Berita Resmi Statistik No. 65/08/Th. XXVIII per 1 Agustus 2025 yang termuat dalam bps.go.id, juga mencatat adanya inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 1,87 persen pada Juni 2025, yang kemudian meningkat menjadi 2,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 108,60 pada Juli 2025.

Kenaikan dalam waktu singkat ini menunjukkan betapa cepatnya harga barang dan jasa merangkak naik, sementara daya beli masyarakat belum tentu ikut menguat."

Artinya, wajar saja jika nilai uang Rp100 ribu dulu terasa begitu besar, sementara sekarang kemampuannya jauh berbeda dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu, harga barang dan jasa terus bergerak naik sehingga daya beli pun ikut tergerus. Inilah sebabnya, uang dengan nominal sama bisa terasa sangat berbeda nilainya di masa yang berbeda.

2. Gaya Hidup

Di era digital, hampir semua hal kini bisa dilakukan secara online, termasuk urusan transaksi. Cukup sekali klik lewat dompet digital atau sekali scan barcode, pembayaran langsung berhasil dalam hitungan detik.

Kemudahan inilah yang melahirkan fenomena 'cashless effect' dan 'pain of paying' yang saling berkaitan. Cashless effect menggambarkan kecenderungan seseorang untuk lebih boros saat bertransaksi digital, karena rasa 'sakit' saat mengeluarkan uang tidak terlalu terasa dibandingkan saat membayar tunai (pain of paying).

Sebagai contoh, uang Rp100 ribu dalam bentuk tunai biasanya bisa dipakai untuk 2–3 kali transaksi. Namun, dalam bentuk digital, uang dengan nominal yang sama bisa saja habis dalam sekali transaksi online tanpa ada rasa kehilangan yang berarti. Akibatnya, saldo terus berkurang lewat pembelian kecil yang dilakukan berulang kali tanpa disadari.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore