Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Agustus 2025 | 23.04 WIB

Ternyata Ini Alasan Ekonomi RI Masih Tumbuh 5,12 Persen, Sementara Ada Banyak Pekerja Kena PHK Massal

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah Redjalam. (Nurul Fitriana/JawaPos.com) - Image

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah Redjalam. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)

JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal II-2025 tercatat sebesar 5,12 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Angka tersebut tercatat tumbuh 4,04 poin dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I-2025.

Bahkan, sejumlah ekonom menilai bahwa pertumbuhan ekonomi BPS tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi. Terlebih terjadi di tengah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang massal terjadi di tanah air.

Merespons hal itu, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah Redjalam menilai ekonomi tetap tumbuh sebesar 5,12 persen di tengah fenomena PHK, karena kebanyakan dari mereka beralih kerja ke sektor ekonomi digital.

"Kalau kita lihat komentar misalnya, kok orang banyak PHK, kok pertumbuhan ekonomi naik? Yang pertama, PHK itu bukan berarti yang di PHK itu tidur siang aja kan? Enggak, yang PHK itu tetap bekerja. Dan di sinilah peran ekonomi digital sebenarnya," kata Piter dalam acara 'Peluncuran Laporan Riset Ekonomi Digital Indonesia oleh Prasasti Center for Policy Studies' di Jakarta, Selasa (12/8).

Piter juga menyampaikan, kehadiran aplikator transportasi digital seperti Gojek hingga In Drive telah menjadi bantalan sosial bagi mereka-mereka yang menjadi korban PHK.

"Kita harus bersyukur, karena termasuk misalnya ada daily, baik itu Gojek, Grab, Maxim, In Drive, itu kan sebenarnya adalah bantalan untuk lapangan kerja. Ketika mereka mendapatkan PHK, mereka bisa masuk ke sektor digital, masuk ke deep cooker digital," tutur Piter.

Selain menjadi bantalan sosial, Piter juga membeberkan para korban PHK yang bekerja di sektor digital telah mampu memenuhi konsumsinya sendiri.

Sehingga, di tengah fenomena PHK, angka konsumsi dalam rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) masih menunjukkan pertumbuhan.

Bahkan, Piter juga menilai konsumsi rumah tangga yang sebesar 4,97 persen pada Kuartal II-2025, masih valid dan dapat diandalkan sebagai acuan.

"Dan artinya apa? Artinya itu tetap membantu mereka bisa mendapatkan penghasilan dan membantu mereka tetap untuk konsumsi. Dan inilah yang kemudian kalau kita lihat di data BPS, walaupun di tengah PHK yang tinggi, walaupun dengan angka-angka indikator yang menunjukkan perlemahan di konsumsi," beber Piter.

"Ternyata pertumbuhan konsumsi kita yang disampaikan oleh BPS itu tidak turun, masih tumbuh sedikit. Tapi tidak naik juga, saya kira angka yang disampaikan oleh BPS itu masih cukup, menurut saya cukup valid, cukup reliable untuk kita pakai," imbuhnya.

Dari sejumlah alasan tersebut, Piter menyampaikan bahwa peralihan masyarakat yang terkena PHK ke sektor ekonomi digital, masih mampu membuat konsumsi mereka tidak turun.

"Bahwasannya di tengah berbagai gejolak perekonomian, PHK, indikator-indikator yang seperti indeks keyakinan konsumen yang turun, tapi konsumsi yang tidak turun," pungkasnya.

Untuk diketahui, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat tren peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang awal 2025.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore