
Ilustrasi kilang minyak. (Istimewa)
JawaPos.com - Iran secara terbuka mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak dan gas paling strategis di dunia.
Langkah ekstrem ini diambil sebagai balasan langsung atas serangan udara Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Meski keputusan parlemen sudah bulat, implementasi penuh penutupan Selat Hormuz masih menunggu persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, badan tertinggi negara dalam pengambilan keputusan strategis.
Merespons rencana itu, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi memprediksi harga minyak mentah dunia akan terkerek naik mencapai USD 100 per barel.
Itu jika Iran membalas serangan dengan benar-benar memutuskan untuk menutup Selat Hormuz sehingga kapal-kapal tanker minyak tidak bisa melintas.
"Kalau kemudian Iran menutup (Selat Hormuz), akan membuat harga minyak bisa di atas USD 100 dolar per barel," kata Fahmy Radhi saat dihubungi JawaPos.com, Senin (23/6).
Lebih lanjut dia membeberkan, penutupan selat tersebut akan berefek besar, lantaran selama ini Selat Hormuz telah menjadi lalu lintas bagi suplai chain dari minyak dunia.
Bahkan, harga minyak mentah juga akan makin mendidih, apabila eskalasi perang ini ikut menyeret selain Amerika. Misalnya, seperti negara-negara penghasil minyak, maka itu sudah otomatis akan menjadi penyulut kenaikan harga minyak dunia.
"2/3 minyak dunia itu lewat di Selat Hormuz, dan itu ada di teritorialnya Iran. Kalau kemudian Iran menutup, maka dua variable itulah yang kemudian akan membuat harga minyak bisa dia atas USD 100 dolar," jelasnya.
Meski begitu, Fahmy menyebut, sebelum memutuskan untuk menutup Selat Hormuz, Iran akan lebih dulu menggodoknya secara matang. Pasalnya, penutupan juga akan berdampak langsung pada ekonomi Iran.
"Pengalaman sebelumnya, tidak serta-merta kemudian Iran melakukan itu karena secara ekonomi juga akan merugikan bagi Iran. Kecuali kondisinya sudah mepet," bebernya.
Kendati demikian, Fahmy menyebut harga minyak mentah akan tetap naik usai penyerangan AS ke Iran. Adapun besaran kenaikannya berkisar pada 8-10 persen.
Kalau asumsinya serangan Amerika Serikat (AS) hanya parsial, tidak berkelanjutan, maka naik maksimal sebesar 10 persen. "Kalau naik, paling maksimal seperti serangan pertama Israel ke Iran itu kan antara 8-10 persen," tutupnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
