
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam paparan rapat dewan komisioner bulanan, Senin (2/6). (Foto: Youtube OJK TV)
JawaPos.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kinerja intermediasi perbankan stabil dengan profil risiko yang tetap terjaga. Likuiditas juga dirasa masih memadai.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan, pada April 2025, kredit tumbuh sebesar 8,88 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 7.960,94 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,86 persen YoY. Diikuti oleh kredit konsumsi tumbuh 8,97 persen dan kredit modal kerja yang naik 4,62 persen secara tahunan.
Ditinjau dari sisi kepemilikan, bank badan usaha milik negara (BUMN) masih menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan kredit sebesar 8,82 persen YoY. Berdasarkan kategori debitur, kredit kepada korporasi meningkat dua digit sebesar 12,77 persen YoY. Untuk kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tumbuh 2,60 persen YoY.
"Di dalamnya, kredit usaha kecil menunjukkan pertumbuhan tertinggi sebesar 9,48 persen (YoY) di tengah upaya perbankan yang terus berfokus pada pemulihan kualitas kredit UMKM," ujar Dian dalam paparan rapat dewan komisioner bulanan, Senin (2/6).
Dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga tumbuh meski terbatas. Yakni sebanyak 4,55 persen YoY menjadi Rp 9.047 triliun. Rinciannya, giro tumbuh 6,02 persen, tabungan naim 6,05 persen, dan deposito sebesar 2,07 persen YoY.
Dian juga memastikan likuiditas industri perbankan per April 2025 tetap memadai. Rasio alat likuid terhadap dana non-core (AL/NCD) tercatat 111,32 persen dan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 25,23 persen.
"Keduanya masih jauh di atas threshold masing-masing yaitu 50 persen dan 10 persen," ujarnya. Sementara rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) juga berada pada tingkat yang sehat sebesar 200,35 persen.
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio pertumbuhan kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) gross di level 2,24 persen dan net sebesar 0,83 persen. Loan at Risk (LaR) relatif stabil di level 9,92 persen.
"Meskipun sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, rasio ini masih lebih rendah dibandingkan posisi April 2024 dan juga masih di bawah tingkat pra-pandemi sebesar 9,93 persen pada Desember 2019," kata mantan kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) itu.
Menurut dia, ketahanan perbankan juga masih kuat. Tercermin dari rasio kecukupan modal alias Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tinggi, yaitu 25,43 persen. Rasio ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang solid di tengah ketidakpastian global saat ini.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
