
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. (Agas Putra Hartanto/JawaPos.com)
JawaPos.com - Chief Economist Permata Bank Josua Pardede melihat ketidakpastian perang dagang memang masih cukup tinggi. Sehingga membuat investor ataupun pelaku usaha cenderung wait and see, menunda investasi, dan juga menunda keperluan ekspansinya. Memang yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah adalah cara meresponnya dengan kebijakan yang countercyclical.
"Artinya kebijakan fiskal mesti lebih ekspansif lagi. Stimulus agar lebih tepat sasaran. Agar konsumsi dan juga investasi bisa lebih bergerak lagi. Meskipun memang government spending range ataupun dampaknya ke pertumbuhan tidak besar, bisa kita bayangkan bahwa multiply effect kepada konsumsi dan investasi ini cukup besar," terang Josua.
Kalau bicara kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, sebenarnya dampak langsungnya relatif terbatas ataupun marginal ke Indonesia. Hanya memang perlu mempertimbangkan dampak tidak langsung dari perlambatan mitra dagang utama yang juga dikenakan tarif resiprokal.
Tentunya akan memengaruhi kinerja dagang dan di saat bersamaan membuat harga komoditas ekspor utama Indonesia terkoreksi. Josua merevisi ke bawah beberapa indikator dari harga komoditas utama ekspor Indonesia.
Seperti harga batu bara di tahun ini di kisaran USD 85 per ton. Lalu harga CPO berkisar USD 880 per ton dan juga harga minyak dunia di USD 67 per barrel. Dari sisi fiskal, sekalipun memang fokus pemerintah di tahun ini akan cukup besar untuk makan bergizi gratis (MBG), Josua melihat bahwa defisit fiskal masih akan tetap dijaga di kisaran 2,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Yang perlu ditekankan yakni produktivitas kebijakan fiskal perlu ditingkatkan.
"Artinya pemerintah harus bisa mendorong proyek ataupun program yang bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Untuk bisa menutupi dampak PHK yang juga cukup besar di beberapa industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan juga alas kaki," jelasnya.
Dari sisi inflasi, masih akan tetap terjaga di kisaran 3 persen. Setidaknya di kisaran 2,33 persen pada akhir 2025.
Dengan kondisi melihat bahwa The Federal Reserve (The Fed) berpeluang untuk memakas hubungannya 75 sampai 100 basis point (bps) tahun ini. Bank Indonesia (BI) juga masih memiliki ruang untuk memakas suku bunganya sekitar 50 bps tahun ini.
Dengan demikian, Josua melihat kondisi tahun ini memang tantangannya dari eksternal cukup berat. Dari dalam negeri juga konsumsi maupun daya beli kelas menengah cukup berat. Sehingga kebijakan fiskal memang perlu diambil dengan hati-hati dan manageable.
"Harapannya kebijakan MBG ataupun nanti kebijakan investasi yang diambil oleh danantara akan bisa menggerakkan ekonomi Indonesia ke depannya," tandasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
