
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang perdagangan pekan ini, yang terhitung mulai Senin-Kamis, 14-17 April 2025 diprediksi akan tetap lesu.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyebut bahwa IHSG masih akan fluktuatif selain efek perang dagang juga fundamental ekonomi Indonesia.
Dari sisi domestik, Bhima menyebut pelemahan sisi dipengaruhi oleh lesunya permintaan atau daya beli masyarakat hingga penjualan ritel. Bahkan, pada saat momen Ramadhan dan lebaran pergerakan ekonomi pun belum memuaskan.
"Jadi faktor eksternal satu hal, tapi yang membuat IHSG dan rupiah akan tertekan adalah soal performa ekonomi dalam negeri termasuk juga gaduh-gaduh soal transparansi dan juga penyusunan RUU," kata Bhima kepada JawaPos.com, dikutip Senin (14/4).
"Minggu ini ada pembahasan RUU Polri juga, itu akan menambah dinamika dan persepsi risiko di mata investor," sambung Bhima.
Di sisi lain, IHSG sebelumnya ditutup di level 6.262 pada akhir perdagangan Jumat, 11 April 2025 lalu atau melemah kurang lebih -3,9 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menyebutkan ada 2 sentimen global dan 1 sentimen domestik yang menjadi pemicu penurunan IHSG pada sepanjang pekan ini, terhitung 7-11 April 2025. Mulai dari sentimen global harga emas (gold) dan kebijakan tarif Donald Trump.
Sementara itu terkait kebijakan tarif Donald Trump, pemerintahan Presiden Donald Trump kembali memberlakukan tarif impor tinggi, termasuk tarif sebesar 145 persen terhadap produk dari Tiongkok. David mengungkapkan, kebijakan ini memicu kekhawatiran akan perang dagang yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
"Dampaknya terasa di berbagai pasar saham dunia, termasuk Indonesia, dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga 7,9 persen pada 8 April 2025," ungkap David.
Sementara itu dari domestik, David menyebutkan ada optimisme Pemerintah, di mana Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa dampak tarif AS terhadap ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengurangi pertumbuhan sebesar 0,3 hingga 0,5 poin persentase.
Namun, dengan adanya penundaan selama 90 hari, pemerintah berencana untuk melakukan deregulasi, pemotongan pajak, dan pelonggaran kebijakan impor guna mengurangi dampak negatif tersebut. "Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menarik kembali minat investor," tutupnya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
