JawaPos.com - Ekonom senior Universitas Indonesia sekaligus pendiri Institute For Development of Economics And Finance (INDEF), Faisal Basri meninggal dunia pada Kamis (5/9).
Kabar duka tersebut dibenarkan oleh Ekonom dari INDEF, Abra Tallatov ketika dihubungi JawaPos.com pada Kamis (5/9).
"Betul mba (Faisal Basri meninggal dunia)," ucap Abra singkat.
Abra juga memberi kabar bahwa Ekonom senior INDEF, Faisal Basri meninggal dalam usianya ke 65 tahun di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan pada pukul 03.50 WIB.
Profil singkat Faisal Basri
Faisal Basri merupakan pria kelahiran Bandung, 6 November 1959. Nama “Basri” ia sematkan sebagai bentuk penghargaan terhadap ayahnya yang bernama Hasan Basri Batubara.
Faisal sempat tinggal di Kota Kembang hingga usia 6 tahun, sebelum akhirnya hijrah ke ibukota dan tinggal di Gang Eddy, Kawasan Guntur Halimun, Jakarta Selatan. Tercatat sebagai lulusan di SMA Negeri 3 Jakarta yang berlokasi di Tebet, ekonom yang dikenal sebagai Faisal Batubara ini merupakan lulusan Ilmu Ekonomi dari Universitas Indonesia.
Dengan gelar Master of Arts bidang ekonomi diraihnya Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika (1988). Setamatnya dari bangku kuliah, Faisal memulai kariernya sebagai peneliti dengan pangkat terendah, yaitu Junior Research Assistant di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM).
Kemudian, pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia untuk mata kuliah Ekonomi Politik, Ekonomi Internasional, Ekonomi Pembangunan, dan Sejarah Pemikiran Ekonomi (1981-sekarang).
Selain mengampu mata kuliah itu, Faisal juga merupakan pengajar pada Program Magister Akuntansi (Maksi), Program Magister Manajemen (MM), Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan (MPKP), dan Program Pascasarjana Universitas Indonesia (1988-sekarang).
Aktif di dunia akademisi dan profesional, Faisal juga pernah diamanatkan menjadi Ketua Jurusan ESP (Ekonomi dan Studi Pembangunan) FEBUI (1995-1998), Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta (1999-2003). Hingga kemudian, ia mendirikan Institute For Development of Economics And Finance (INDEF) dan terus aktif membagikan analisis kritis keilmuannya di berbagai kegiatan.
Faisal Basri adalah seorang ekonom senior yang konsisten dan berani mengkritik penguasa. Bahkan karena keberaniannya, ia pernah diminta pemerintah melawan mafia migas dan ikan.
Pada tahun 2014, Faisal Basri sempat diminta menjadi Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas oleh Menteri ESDM Sudirman Said. Adapun tugasnya untuk melakukan reformasi tata kelola minyak dan gas (Migas), yakni memberantas mafia Migas yang bersarang di sektor energi dan menata ulang kelembagaan supaya bisa bekerja optimal.
Kemudian, pada tahun 2015, ia kembali dipercaya untuk membantu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk memberantas mafia ikan alias anti illegal fishing.
Selain itu, Faisal Basri juga tercatat pernah mengemban amanah sebagai anggota Tim “Perkembangan Perekonomian Dunia” pada Asisten II Menteri Koordinator Bidang EKUIN (1985-1987) dan anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI (2000). Bahkan, dari sisi politik Faisal Basri pernah menjadi lawan Joko Widodo karena berkonstelasi di Pilgub DKI Jakarta melalui jalur independen bersama pasangannya Biem Benyamin.