
Sejumlah warga yang tidak mendapatkan kupon tetap antre untuk mendapatkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kantor Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (20/2/2024).
JawaPos.com – Harga beras masih bertahan tinggi. Stoknya pun belum merata. Monitoring satuan tugas (satgas) pangan, persediaan beras di ritel modern cenderung minim jika dibandingkan dengan di pasar tradisional.
Kepala Tim Satgas Pangan Bareskrim Polri Brigjen Pol Helfi Assegaf mengungkapkan, pemicu kondisi itu adalah pengusaha beras yang cenderung memasok ke pasar tradisional. ”Produsen beras cenderung memasok beras premium ke pasar tradisional dibandingkan ke ritel modern karena harga lebih kompetitif,’’ ujar Helfi pada rakor pengendalian inflasi daerah bersama Kemendagri di Jakarta kemarin (26/2).
Dia memastikan, stok beras medium dan premium untuk Kanwil Bulog masih mencukupi. Namun, kemampuan dalam melakukan pengemasan terbatas, yakni hanya sekitar 8.000 bungkus 5 kg per hari. Hal itu berdampak pada proses distribusi.
Helfi memerinci, harga gabah kering panen (GKP) di petani sudah mencapai Rp 8.000–Rp 8.500 per kg. Sedangkan biaya operasional (pengemasan, produksi, dan pengiriman) Rp 7.000–Rp 9.500 per kg. Kondisi itu mengakibatkan harga beras premium di tingkat konsumen mencapai Rp 16.000–Rp 18.000 per kg. ”Bahkan, harga beras medium sudah mendekati harga beras premium, yakni Rp 15.000–Rp 16.000 per kg,” bebernya.
Satgas pangan beserta kementerian/lembaga (K/L) terkait mendorong pelaku usaha untuk mengisi beras premium ke ritel modern. Selain itu, satgas pangan segera menertibkan elemen produksi yang menjadi penyebab kenaikan cost produksi guna menurunkan harga penjualan GKP oleh petani.
Pemda dan PPNS K/L terkait perlu memberikan sosialisasi kepada pelaku usaha pangan mengenai aturan harga eceran tertinggi (HET). Sekaligus memberikan peringatan keras hingga penegakan hukum bagi yang tidak mematuhi.
Helfi melanjutkan, Perum Bulog diimbau mempercepat proses pengemasan dan pendistribusian. Dengan demikian, beras dapat diterima cepat oleh ritel modern, tradisional, dan masyarakat, baik penerima beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) maupun bantuan pangan, yang berdampak pada penurunan harga beras medium.
Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Edy Priyono menuturkan, ketersediaan beras di pasar ritel modern menjadi perhatian. Beras premium kosong di banyak minimarket. Belum optimalnya penyaluran ke minimarket mengakibatkan antrean panjang di pasar murah yang menjual beras sesuai HET.
Edy menambahkan, ditemukan fakta lapangan oleh satgas pangan bahwa beras SPHP dijual di atas HET. Terutama yang melalui pedagang eceran tanpa perjanjian dengan Bulog.
Edy mengimbau dilakukan percepatan realisasi impor oleh Perum Bulog sebelum musim panen raya datang dan kesiapan Kanwil Bulog. Dengan begitu, distribusi beras SPHP bisa dilakukan lebih cepat dan biaya angkut bisa ditekan.
Selain itu, perlu dilakukan optimalisasi distribusi beras SPHP Bulog melalui jaringan minimarket karena harga bisa sesuai HET.(dee/lyn/mia/agf/c7/fal)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
