
Gedung Bank Indonesia. BI diprediksi tetap menahan suku bunga acuan di level 6 persen.
JawaPos.com - Perekonomian Indonesia diperkirakan bakal lebih bergairah di 2024. Didorong konsumsi rumah tangga dan inflasi. Apalagi, penyelenggaraan pemilu akan mendorong konsumsi. Meski investasi berpotensi sedikit melambat.
"Pemilu akan berdampak positif bagi ekonomi nasional, terutama kenaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Namun demikian, beberapa hal seperti sikap menunggu hasil pemilu dari para investor dan volatilitas ekonomi global perlu diwaspadai," kata Chief Economist PT Mandiri Sekuritas Rangga Cipta di The Loft, Senin (29/1).
Inflasi pada 2024, lanjut dia, bakal stabil di kisaran 3,2 persen. Bank Indonesia (BI) berpotensi menurunkan suku bunga acuannya sebanyak 75 basis poin (bps) ke posisi 5,25 persen. Sedangkan, nilai tukar rupiah akan menguat ke level Rp 14.900 secara rata-rata.
"Namun (proyeksi itu) masih dipengaruhi volatilitas ekonomi global di kuartal I 2024," imbuhnya.
Meski demikian, Indonesia berpotensi menerima dana asing mencapai USD 10 miliar sepanjang 2024. Sejalan dengan sikap dovish The Federal Reserve (The Fed). Rangga (soal The Fed). Mengingat, inflasi di Amerika Serikat (AS) mulai melandai mendekati target 2 persen.
Rangga memperkirakan penurunan Fed funds rate (FFR) tahun ini sebanyak 125 bps dengan pemotongan perdana pada pada Federal Open Market Committee (FOMC) Mei 2024 nanti. Penurunan FFR akan bertahap.
Perkiraannya bisa tiga atau empat kali pemotongan dengan masing-masing sebesar 25 bps atau 50 bps setiap pertemuan. Dengan demikian, capital inflow akan mulai masuk setidaknya di kuartal II dan III.
"Saya ambil langkah secara historis kapan masuknya, mungkin portofolio inflow bisa masuk sebelum ratenya benar-benar cut. Kami lihat market akan bergerak berdasarkan ekspektasi dan biasanya sebelum actual cut The Fed akan ada sinyal pemangkasan yang datang lebih dulu," jelas Rangga.
Dalam kesempatan yang sama, Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan mencapai 7.640 di 2024. Potensi penurunan suku bunga global akan menopang perbaikan pertumbuhan di semester II 2024. Bahkan sepanjang tahun ini pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dari tahun sebelumnya.
Menurut dia, periode 2024-2025 menjadi momentum perekonomian keluar dari pengetatan global. Tingkat return on investor capital-weighted average cost of capital (ROIC-WACD) yang menggambarkan efektivitas perusahaan menggunakan biaya modal yang diinvestasikan menjadi keuntungan akan mencapai level tertinggi. Bahkan tertinggi dalam 9 tahun terakhir.
Sebab, pelonggaran suku bunga global akan berdampak terhadap fundamental perusahaan-perusahaan. Baik dari sisi neraca dan profitability margin perusahaan.
"Sehingga akan membantu mempercepat pemulihan pertumbuhan setelah kebijakan tightening berakhir dan juga membantu menopang imbal hasil dividen yang tinggi ke depannya," terang Adrian.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
