
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
JawaPos.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Pemerintah dan DPR RI telah sepakat mengubah asumsi makro ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2024.
Dua hal yang diubah, yakni terkait dengan harga Indonesia Crude Price (ICP) atau harga patokan minyak mentah Indonesia dan lifting minyak yang keduanya kompak dinaikkan.
Menkeu menyebut, perubahan asumsi makro ini dilakukan untuk menyelaraskan dengan perkembangan ekonomi terkini dan prospek perkeonomian kedepan. Terlebih saat ini harga minyak mentah dunia telah tembus pada harga lebih dari USD90 per barel.
"Sehingga perlu dilakukan penyesuaian pada asumsi harga minyak mentah (ICP) menjadi $82 per barel dan lifting minyak bumi menjadi 635 ribu barel per hari. Asumsi lain masih sesuai dengan yang diusulkan dalam RAPBN 2024," kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja Banggar DPR RI di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (7/9).
Lebih lanjut, Menkeu merinci bahwa untuk pertumbuhan ekonomi tidak ada perubahan, yakni tetap 5,2 persen sesuai dengan RUU RAPBN 2024 yang telah disampaikan pemerintah.
"Inflasi tetap ditargetkan sebesar 2,8 persen, suku bunga SBN tiga di 10 tahun tetap 6,7 persen dan nilai tukar rupiah tetap di Rp 15.000," tandasnya.
Atas perubahan itu, maka berikut ini asumsi dasar ekonomi makro terbaru dalam RAPBN 2024 berdasarkan kesepakatan panja A:
- Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen
- Inflasi sebesar 2,8 persen
- Nilai tukar rupiah bergerak di sekitar Rp15.000 per Dolar AS.
- Imbal hasil surat berharga negara (SBN) 10 tahun diprediksi pada level 6,7 persen
- Harga minyak mentah Indonesia USD 82 per barel.
- Lifting minyak bumi masing-masing mencapai 635 ribu barel per hari
- Lifting gas bumi 1,03 juta barel setara minyak per hari.
Sebagai informasi, harga minyak mentah dunia terus meroket, Brent naik 56 sen menjadi USD90,60 per barel dari sebelumnya USD90,04 pada perdagangan Rabu (6/9) kemarin. Merespons situasi tersebut, Sri Mulyani mengungkapkan penyebab meroketnya harga minyak mentah dunia disebabkan oleh komitmen Saudi dan Rusia untu mengurangi jumlah produksi. Selain itu, karena pembatalan eksplorasi minyak di Alaska oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden.
Dia memastikan, kebijakan yang diambil oleh Presiden Joe Biden dan komitmen Saudi serta Rusia yang mengurangi jumlah produksi akan menimbulkan dinamika dari sisi suplai juga demand.
Dari sisi demand, kata Menkeu, hal ini akan berpengaruh terhadap berbagai outlook terhadap perekonomian tahun depan yang masih mencari keseimbangan. Utamanya dalam menyeimbangkan inflasi tanpa mendisrupsi pertumbuhan ekonomi.
"Ini masih akan menjadi satu ketidakpastian yang harus kita terus perhatikan dan tentu ekonomi kedua terbesar RRT yang sedang terus berjuang untuk mengembalikan dan memulihkan ekonomi yang cenderung melemah," tutur Menkeu.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
