Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 Agustus 2023 | 02.04 WIB

Erick Thohir Ungkap Alasan Merger Garuda Indonesia, Citilink Indonesia dan Pelita Air

Ilustrasi penerbangan pelat merah, Garuda Indonesia. (Dok. Jawa Pos) - Image

Ilustrasi penerbangan pelat merah, Garuda Indonesia. (Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berencana merger tiga maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), Citilink Indonesia, dan Pelita Air.

Erick menjelaskan, rencana tersebut dilakukan agar biaya logistik di Indonesia dapat terus menurun sehingga semakin meringankan dunia bisnis. Dalam hal ini, dia mendorong agar efisiensi terus menjadi agenda utama pada perusahaan-perusahaan milik negara sebagaimana pernah dilakukan pada empat Pelindo.

"BUMN terus menekan logistic cost. Pelindo dari 4 (perusahaan) menjadi 1. Sebelumnya, logistic cost mencapai 23 persen, sekarang jadi 11 persen. Kita juga upayakan Pelita Air, Citilink, dan Garuda merger untuk menekan cost," kata Erick Thohir dalam keterangan resmi, ditulis Rabu (23/8).

Dia menjelaskan, Garuda Indonesia telah diselamatkan negara setelah nyaris dibubarkan. Pada saat itu, Garuda pada dipertahankan karena Indonesia perlu tetap memiliki flag carrier.  

Menurutnya, Garuda diselamatkan melalui rangkaian restrukturisasi paling rumit dalam sejarah penyelamatan korporasi Indonesia. Saat Garuda Indonesia diperjuangkan, kata Erick, di waktu yang sama telah dipersiapkan Pelita Air dengan tujuan agar Indonesia tetap memiliki flag carrier nasional jika Garuda gagal diselamatkan.

"Kini Indonesia masih kekurangan sekitar 200 pesawat. Perhitungan itu diperoleh dari perbandingan antara Amerika Serikat dan Indonesia. Di Amerika Serikat terdapat 7.200 pesawat yang melayani rute domestik. Dimana terdapat 300 juta populasi yang rata-rata GDP (pendapatan per kapita) mencapai USD 40 ribu," jelasnya. 

Lebih lanjut Erick menuturkan, di Indonesia terdapat 280 juta penduduk yang memiliki GDP USD 4.700. Itu berarti, kata dia, Indonesia membutuhkan 729 pesawat. Padahal sekarang, Indonesia baru memiliki 550 pesawat. "Jadi perkara logistik kita belum sesuai," ujarnya.

Erick menyampaikan hal itu saat berbicara dalam acara Indonesia Cafetalk dengan tema 'Indonesia Diaspora Network Bersama Erick Thohir'. Dalam acara yang digelar di Cafe Kopi Kalyan ini, dijelaskan juga soal BNI Diaspora Solution dari BNI.

Sebelumnya, merger Pelindo secara resmi telah terlaksana, dengan ditandatanganinya Akta Penggabungan empat BUMN Layanan Jasa Pelabuhan. Empat Pelindo yang telah dimerger, Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia I, Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia III, dan Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia IV.

"Mereka melebur kedalam Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia II yang menjadi surviving entity," tandasnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore