
Ilustrasi asuransi kesehatan. (Moneycontrol)
JawaPos.com-Lonjakan biaya pengobatan di Indonesia menjadi tantangan serius bagi banyak keluarga. Dari operasi besar hingga perawatan pasca tindakan medis, angka yang harus dibayar seringkali mencapai ratusan juta rupiah.
Isu tersebut juga menjadi persoalan sebagian besar masyarakat Indonesia. Ditambah lagi, pemerintah juga belum mampu mengatasi masalah tersebut dan membuat layanan medis serta fasilitas kesehatan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat yang lebih mampu cenderung memilih alternatif lainnya, seperti salah satunya, asuransi syariah yang diklaim hadir bukan hanya sebagai instrumen proteksi finansial, melainkan juga wadah gotong royong berbasis nilai keadilan dan solidaritas.
Berbeda dengan asuransi konvensional, asuransi syariah berlandaskan prinsip tolong-menolong (ta’awun). Setiap peserta menyisihkan kontribusi yang dikumpulkan dalam dana tabarru, yaitu dana bersama yang digunakan untuk membantu sesama peserta saat terkena musibah.
Perusahaan asuransi bertugas mengelola dana ini secara amanah dan transparan, tanpa mengambil keuntungan dari setiap klaim yang dibayarkan. Dengan mekanisme ini, peserta bukan sekadar pemegang polis, tetapi bagian dari komunitas yang saling mendukung.
Pengalaman nyata dialami Sri Kurniati, seorang ibu asal Jakarta. Pada 2023, anaknya mengalami cedera serius pada lutut (ACL) akibat kecelakaan. Biaya pengobatan mencapai hampir Rp 300 juta, mulai dari operasi hingga fisioterapi.
Seluruh biaya ditanggung penuh melalui asuransi syariah yang ia ikuti sejak 2019. “Kami tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Bahkan saat harus pindah rumah sakit, semua dibantu dengan sigap,” tutur Sri belum lama ini di Jakarta.
Hal serupa dialami Agustine, peserta asuransi syariah sejak 2014. Meski sudah memiliki BPJS Kesehatan, dia memilih menambah perlindungan keluarga dengan skema syariah.
“Saya pernah operasi mata pada 2019 dengan biaya lebih dari Rp 40 juta. Proses klaimnya cepat dan mudah,” jelas Agustine. Baginya, kontribusi yang dibayarkan setiap bulan adalah bentuk ibadah sekaligus cara membantu orang lain yang sedang kesulitan.
Menurut Vivin Gautama, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah, prinsip utama asuransi syariah adalah keadilan, transparansi, dan tanggung jawab.
“Dana tabarru’ adalah amanah dari para peserta. Kami memastikan pengelolaannya dilakukan secara adil dan tepat sasaran,” ujar Vivin.
Sepanjang 2024, Prudential Syariah mencatat penyaluran klaim dan manfaat sebesar Rp 2,3 triliun, atau setara Rp 6,3 miliar per hari. Angka ini menunjukkan mekanisme gotong royong benar-benar berjalan dan memberi dampak nyata bagi para peserta.
Kisah Sri dan Agustine menjadi bukti bahwa musibah bisa datang kapan saja. Asuransi syariah tidak hanya memberi ketenangan finansial, tetapi juga menguatkan nilai kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Analisis Prediksi Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kans Besar Three Lions Lolos ke Semifinal!
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: Tembok Tebal La Roja Bakal Sulitkan Setan Merah!
Rekor 12 Pertemuan Norwegia vs Inggris: Three Lions Superior, Mampukah Erling Haaland Cs Mematahkan Dominasi?
Sepak Bola Indonesia Berduka, Tokoh Suporter Persebaya Surabaya Andie Peci Meninggal Dunia
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
