
Banyak investor saham masih memahami phishing sebagai ancaman sederhana berupa SMS palsu, email login bodong, atau OTP yang dicuri.
JawaPos.com - Banyak investor saham masih memahami phishing sebagai ancaman sederhana berupa SMS palsu, email login bodong, atau OTP yang dicuri. Namun realitas industri keuangan digital hari ini jauh lebih kompleks.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Moleonoto The menjelaskan, serangan digital modern kini tidak hanya menyasar pengguna, tetapi juga sistem inti perusahaan sekuritas.
Menurut dia, pelaku kejahatan siber saat ini menggunakan berbagai cara, mulai dari session hijacking, authorization flow, backend access, middleware vulnerabilities, API interaction, credential harvesting, malware injection, hingga manipulasi berbasis social engineering yang semakin canggih.
“Artinya, ancaman hari ini tidak menyerang permukaan aplikasi. Ia menyerang jantung sistem. Karena itu, keamanan digital tidak lagi dapat bergantung hanya pada fingerprint, Face ID, PIN, atau biometrik smartphone,” terang Moleonoto dalam keterangannya, Selasa (12/5).
Yang paling berbahaya, lanjut dia, banyak serangan tidak lagi menargetkan kelemahan aplikasi di permukaan, tetapi menyerang arsitektur backend, authorization layer, session control, middleware integration, dan titik-titik kelemahan dalam ekosistem digital sekuritas. Karena itu, proteksi keamanan modern harus dibangun di level infrastruktur inti. Bukan sekadar di level aplikasi.
Ia menengarai sebagian besar pendekatan lama industri masih bergantung pada sistem modular, middleware vendor, third-party plug-ins, dan integrasi parsial. Model seperti ini disebutnya dapat mempercepat pengopereasian sistem, namun juga dapat memperluas titik serangan.
Menurutnya, semakin banyak lapisan vendor dan middleware, semakin banyak titik potensi kerentanan. Pendekatan keamanan yang fragmented membuat pengawasan menjadi lebih kompleks dan dalam konteks phishing modern kompleksitas yang tidak terkendali justru meningkatkan risiko.
“Investor modern mulai memahami hal ini. Karena itu, mereka semakin kritis terhadap broker yang membangun sistem dengan pendekatan tempelan," ungkapnya.
Lebih lanjut, Moleonoto mengungkapkan, jika dulu keputusan banyak ditentukan oleh fee murah, komunitas atau tampilan aplikasi, kini parameter utama telah berubah secara fundamental menjadi siapa yang benar-benar mampu melindungi dana, portfolio, dan aktivitas trading investor.

Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
